Bolehkah Orang Kidal Makan Dengan Tangan Kiri?

Di antara adab yang diajarkan Islam adalah ketika kita hendak makan atau minum. Manusia, khususnya seorang muslim diwajibkan makan dengan menggunakan tangan kanan. Islam juga melarang makan atau minum dengan tangan kiri.

Namun seperti kita sering lihat sekarang, orang muslim banyak yang mempunyai kebiasaan buruk dalam hal makan dan minum. Di antara mereka ada yang melakukannya dengan berdiri dan menggunakan tangan kiri.

Ketahuilah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam biasa menggunakan tangan kanan untuk sebagian besar urusannya yang baik-baik. Sebagaimana hadits ‘Aisyah radhiallahu’anha:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ فِي شَأْنِهِ كُلِّهِ

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam membiasakan diri mendahulukan yang kanan dalam memakai sandal, menyisir, bersuci dan dalam setiap urusannya,” (HR. Bukhari 168).

Lalu bagaimana jika orang yang kidal? Apakah ada pengecualian baginya sehingga diperbolehkan makan dengan tangan kiri?

Dikutip dari Konsultasi Syariah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat marah, ketika ada orang yang makan dengan menggunakan tangan kiri; sebagaimana disebutkan dalam hadis Salamah bin Akwa’, Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat orang yang makan dengan tangan kiri. Beliau langsung mengingatkan,

كل بيمينك

Makanlah dengan tangan kananmu.”

Orang itu menjawab, “Aku tidak bisa.”

Asal Usul Kuliner Khas Islam

Peradaban Islam sebenarnya juga dapat dimaknai sebagai produk pertanian. Masyarakat nomaden yang tidak selalu dianggap “beradab” –yang mencari makan dengan cara berburu, mengumpul, atau menggembala–umumnya masih dianggap sebagai primitif.

Transisi dari berburu dan mengumpul, mengambil tempat perdana di Timur Tengah, di mana kekayaan rumput alam menyediakan bahan baku untuk pengolahan berbagai tanaman. Mundur ke periode zaman es terakhir, sekitar 10.000 SM, mendorong strategi baru untuk mengumpulkan makanan, dan dari waktu ke waktu. Orientasi konsumsi manusia pun berubah. Dari spesies liar menjadi butiran yang lebih berguna, seperti: barley, oat, dan gandum.

Melalui proses tak sadar, mereka memilih tanaman yang menguntungkan dan mendorong untuk bercocok tanam. Sejak 8000 SM, sumber makanan menjadi lebih diandalkan oleh gerombolan nomaden yang menetap ke desa-desa pertanian di Yerikho dan Çatal Huyuk (Turki). Sumber daya alam yang menguntungkan dari sungai Nil di Mesir dan sungai Tigris serta Efrat di Mesopotamia, menghasilkan surplus pertanian, memfasilitasi pengembangan pemukiman masyarakat, di mana akses terhadap makanan membantu untuk mendefinisikan “hierarki”.

Diferensiasi sosial di negara-negara kuno ini (sekitar 2000 SM) juga menyebabkan subordinasi atas perempuan. Hal ihwal ini menjadi ironis, mengingat peran penting dari kaum perempuan dalam aktivitas bercocok tanam.

Sebelum mendakwahkan Islam sekitar 610 M, Nabi Muhammad SAW memimpin sebuah kafilah unta yang melintasi semenanjung Arab. Dengan demikian, dia telah menjembatani antara gaya hidup nomaden gurun dan desa-desa pertanian yang menetap di oasis dan pantai. Islam dengan jenius telah mengemas tradisi yang beragam menjadi peradaban baru. Tentara muslim di bawah khalifah kedua, Umar bin Khattab (memerintah pada 634-644) menyerang dan menaklukkan sebagian besar dari Kerajaan Sasanid dan Bizantium, sehingga mewarisi budaya Persia dan Yunani.

Dalam satu abad, kekuasaan Islam meluas dari Spanyol ke Afrika Utara dan Timur Tengah, hingga India. Agama ini menawarkan akses ke bahan-bahan dan metode memasak dari tiga benua dan membangun dasar untuk sajian masakan yang membentang di seluruh jagat.

Pemerintah kekhalifahan mendorong perdagangan terpadu dan migrasi yang luas, memperkenalkan tanaman pangan Asia ke khalayak Barat. Tradisi Islam menghormati profesi pedagang. Oleh karena itu, para pedagang Arab segera mendominasi rute pelayaran di Samudera Hindia. Kisah Seribu Satu Malam menggambarkan banyaknya produk yang dijual di Baghdad seperti: “apel Suriah dan quince Turki, persik Oman, mentimun dari sungai Nil-Mesir, dan lemon sitrus Sultani.”

Karena pajak yang rendah, tenaga kerja budak, dan kesempatan untuk memiliki tanah pertanian, telah memikat para pedagang asal Persia dan India untuk bermigrasi ke Barat. Mereka membawa teknik irigasi yang canggih dan tanaman tropis Asia, termasuk beras, gula, gandum, jeruk, pisang, mangga, bayam, terong, dan sebagainya.

Beberapa tanaman asal Afrika, seperti semangka dan sorgum, bahkan membuat arah perjalanan berbundar dari pesisir Swahili ke India sebagai tempat persinggahan, sebelum kembali ke Afrika dan Eropa.

Saat melakukan ibadah haji ke Makkah, peziarah muslim asal Andalusia, Ibnu Jubair, mengisahkan ihwal semangka yang terasa “seperti gula-gula atau madu murni”. Lebih nikmat dari melon pahit yang tumbuh secara liar di Afrika.

Susu yang merupakan produk olahan dari para gembala badui, sedikit berubah sejak zaman pra-Islam, kontras dengan daging panggang mewah, padi, serta kombinasi manis dan gurih masakan ala Persia.

Juru masak asal Moor (Spanyol) melancong ke Palestina guna menyajikan makanan laut Mediterania yang segar. Sementara yang lain di Timur Tengah, hanya memiliki akses terbatas kepada ikan kering. Couscous, pasta kukus kecil yang terbuat dari sorgum dan gandum keras, kemudian menyebar perlahan-lahan dari Maroko dan mungkin tiba di Suriah dan Irak sekitar abad ketiga belas. Sebaliknya, manisan dari tebu dan kue-kue yang berbahan tebu tersedia di seluruh dunia Islam.

Hukum berpuasa bagi umat muslim, memberlakukan beberapa kesinambungan atas masakan regional yang beragam ini. Daging babi dilarang untuk muslim, membuat daging kambing menjadi pilihan favorit. Para penjagal kambing, baik Arab dan Yahudi, melakukan ritual penyembelihan hewan kurban. Alquran juga melarang alkohol, yang akhirnya digantikan oleh kopi.

Umat muslim berpuasa selama bulan suci Ramadhan. Meskipun menjadi fenomena umum dalam masyarakat, sikap ramah dan beramal memiliki akar yang sangat jauh di padang pasir Arab yang keras, dan kewajiban bagi setiap individu untuk mengeluarkan zakat bagi masyarakat miskin, menduduki peringkat keempat dalam rukun Islam.

Meskipun ajaran Islam memerintahkan untuk berbagi kepada kaum papa, namun faktanya para pejabat pengadilan kekhalifahan Abbasiyah (750-1258 M) secara rutin mengadakan perjamuan makanan mewah yang menantang etika kesetaraan dalam masyarakat muslim.

Pada abad kesembilan, kitab al-Bukhala mencela orang-orang Arab yang makan “makanan Persia, makanan dari Chosores, daging gandum rasa madu dan mentega murni ….Umar bin Khattab tidak akan setuju.” Referensi bagi kekhalifahan kedua ini menegur pengadilan Bagdad kontemporer, karena mental mereka telah dirusak oleh makanan serba Persia itu.BACA JUGA

Matematika dan Fisika dalam Kanvas Peradaban Islam

Takdir–di mana pun dalam literatur Arab, juga bisa menghukum mereka yang terganggu oleh makanan yang berlebihan. Ziarawan Maroko, Ibnu Battuta, secara sentimentil mengisahkan kepribadian tokoh sufi Jalaluddin Rumi yang tergoda oleh manisan yang ditawarkan oleh seorang penjaja makanan,

“Sang syekh meninggalkan pelajarannya untuk mengikutinya dan menghilang selama beberapa tahun. Kemudian, dia datang kembali, tapi dengan pikiran teratur, berwicara tentang apa pun, kecuali perihal syair-syair Persia yang tak bisa dimengerti.”

Para koki non-muslim juga mencari inspirasi untuk jamuan makan kosmopolitan khas para khalifah. Umat Kristiani abad pertengahan, tidak memiliki akses yang begitu luas ke resep ini, disebabkan oleh pendudukan pasukan Islam atas Spanyol pada periode perang Salib.

Di Sisilia (Italia) yang juga daerah taklukan muslim, makaroni yang terbuat dari gandum keras, telah muncul pada abad ketiga belas, dan dua ratus tahun kemudian, budidaya padi menyebar ke utara, di mana juru masak masih membuat bubur seperti risotto. Para ahli telah menelusuri hubungan antara penggunaan canggih atas rempah-rempah dalam buku resep masakan asal Arab dan karya Eropa Abad Pertengahan–meskipun resep serupa di Apicius membuat kita ragu akan bukti pengaruh langsungnya.

Koki asal Afrika juga mengenal bahan baru dan memanfaatkan teknik memasak itu. Meski difusi tanaman cenderung lari ke arah Barat, dengan keuntungan lebih sedikit untuk Asia, namun, Kesultanan Delhi (1206-1526) telah meninggalkan jejak masakan yang mendalam di India Utara. Resep muslim ini juga muncul di Cina dari Dinasti Lagu (960-1279), namun pengaruh mereka dibayangi oleh revolusi kuliner asli yang dihasilkan dari peningkatan produksi beras Indo-Cina dan munculnya ekonomi pasar.

Pada abad kedua belas, saat jumlah penduduk Cina telah melampaui angka 100 juta jiwa, Restoran Hangzhou membuat beragam masakan, mirip seperti yang ada di pengadilan Bagdad.

Arkian, dengan identitas mereka yang berakar kuat dalam ketaatan kepada Allah SWT, umat muslim membutuhkan beberapa stereotipe tentang makanan barbar untuk membedakan dirinya dari non-muslim. Para pedagang dan peziarah asal Arab, bepergian secara luas dan menyatakan rasa ingin tahunya perihal adat dan makanan dari orang-orang yang mereka temui. Toleransi mereka terhadap “orang-orang dari kitab,” termasuk Kristen, Yahudi, dan kemudian Hindu dan Buddha, juga membantu membuat masakan paling universal dalam persilangan budaya global di dunia.

Sunnah dalam Makan yang Sering Terlupakan

Islam mengajarkan setiap perkara dalam kehidupan manusia dari mulai perkara yang kecil hingga perkara besar, salah satunya adalah makan. Islam mengatur atau mengajarkan umatnya dalam perkara makan agar umatnya mendapatkan keselamatan dan kenikmatan ketika makan.

Dalam hadis Rasulullah Muhammad Saw. telah banyak dijelaskan bagaiamana adab atau etika ketika makan. Namun, di era zaman ini banyak sekali umat Islam yang melupakan atau meninggalkan sunah-sunah makan yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. Dari Amr bin ‘Auf RA, Nabi Muhammad Saw. bersabda ;

مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِى فَعَمِلَ بِهَا النَّاسُ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

Artinya : Siapa orang yang menghidupkan sunnahku, kemudian dikerjakan oleh umat manusia, maka orang tersebut akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang-orang yang mengerjakannya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. (HR. Ibnu  Majah)

Imam Abu Hamid bin Muhammad al-Ghazalli (w. 505 H) telah menghimpun berbagai sunah-sunah Nabi Muhammad SAW ketika makan. Sayangnya, saat ini sebagian kesunahan tersebut telah ditinggalkan oleh umat Islam.

Berikut kesunahan Nabi Muhammad ketika makan yang banyak dilupakan umatnya:

Pertama, meniatkan makan guna memperoleh kekuataan dan kemampuan untuk taat dan beribadah kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi Saw. bahwa setiap amalan tergantung pada apa yang diniatkannya.

Kedua, berwudhu sebelum dan sesudah makan. Nabi Muhammad Saw. bersabda “Berwudhu sebelum makan akan menghilangkan kemiskinan, dan berwudhu sesudahnya akan menghilanggakan gangguan setan.”

Ketiga, makan di atas tikar. Makan di atas tikar lebih mendekatkan pada kerendahan hati. Nabi Muhammad Saw. bersabda “Aku (ketika) makan tidak dalam keadaan bersandar, Aku (Nabi Muhammad Saw.) adalah seorang hamba, maka aku minum layaknya seorang hamba dan makan layaknya seorang hamba.”

Bukan berarti makan di atas meja dilarang oleh syari’at, hanya saja makan di atas tikar lebih menjauhkan seorang hamba dari sifat sombong. Atau dalam kata lain, kita dianjurkan untuk mengutamakan sopan dan santun saat makan.

Keempat, memperindah cara duduk ketika makan. Nabi Muhammad Saw. ketika makan posisi duduk Beliau Saw. ialah duduk di atas punggung kedua kakinya dan terkadang Beliau Saw. menegakkan kakinya sebelah kanan. Ketika Beliau Saw. hendak mengambil makanan Beliau berlutut.

Kelima, makan ketika terasa lapar dan berhenti makan sebelum kenyang. Kekenyangan dapat menyebabkan tubuh terasa berat dan rasa malas pun muncul. Dijelaskan pula oleh Imam Ghazalli bahwa terbiasa terlalu kenyang dapat menyebabkan hati menjadi keras. Disebutkan dalam hadis Nabi Muhammad SAW, “Paling jauhnya sesuatu dari (Rahmat) Allah ialah hati yang keras.”

Keenam, makan bersama-sama atau berjama’ah. Nabi Muhammad Saw. seumur hidupnya tidak pernah makan sendirian, Beliau Saw. pasti selalu mencari para sahabatnya. Makanan itu menjadi berkah jika banyak orang yang menyantapnya.

Ja’far Shaddiq bin Muhammad RA berkata, “Apabila kalian sedang duduk bersama saudara-saudara kalian untuk makan, maka berlama-lamalah dalam duduk tersebut, karena sesungguhya waktu kalian tidak akan dipertanyakan bagi kalian dari umur-umur kalian.”

Abdurrahman bin Sakhr RA (w. 59 H) berkata bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Siapa orang yang berpegang teguh dengan sunahku (Nabi Muhammad Saw.) ketika umatku dalam kerusakan, maka baginya pahala seratus orang syahid.” (HR. Al-Baihaqi (w. 457 H).

Hadis ini sebagai penyemangat untuk umat ini terus menghidupkan ajaran dan sunah-sunah Rasulullah SAW yang banyak sekali tinggalkan oleh Umat Islam.

Menghidupkan seluruh sunah Rasulullah SAW adalah cita-cita setiap pecinta Nabi Muhammad SAW walaupun dengan berbagai keterbatasan dan kelemahannya. Dengan sunah Nabi Muhammad SAW. seorang manusia dapat menggapai keselamatan dan kenikmatan hidup yang hakiki.

Apa Hukum Memakan Tulang di Dalam Islam

Disebutkan dalam hadis riwayat Muslim, bahwa para Jin datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta kepada beliau makanan yang halal. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada mereka:

لكم كل عظم ذكر اسم الله عليه يقع في أيديكم أوفر ما يكون لحما وكل بعرة علف لدوابكم

Makanan halal untuk kalian adalah semua tulang hewan yang disembelih dengan menyebut nama Allah. Ketika tulang itu kalian ambil, akan penuh dengan daging. Sementara kotoran binatang akan menjadi makanan bagi hewan kalian.” (HR. Muslim No.450)

Dalam riwayat lain, beliau bersabda:

لَا تَسْتَنْجُوا بِالرَّوْثِ، وَلَا بِالْعِظَامِ، فَإِنَّهُ زَادُ إِخْوَانِكُمْ مِنَ الْجِنِّ

Janganlah kalian beristinjak (bersuci setelah buang air) dengan kotoran dan tulang. Karena itu adalah makanan bagi saudara kalian dari kalangan jin.” (HR. Turmudzi 18, dan dishahihkan Al-Albani)

Dari dua hadis di atas dapat kita simpulkan bahwa tulang termasuk makanan jin. Namun apakah ini bisa dijadikan dalil yang mengatakan bahwa tulang haram dimakan manusia?

Jawaban Syaikh Abdurrahman As-Suhaim, salah seorang dai ahlus sunah di Kementrian Wakaf dan Urusan Islam, Riyadh, KSA.

Ketika beliau ditanya tentang hukum makan tulang, apakah haram? Beliau menjelaskan:

Allah berfirman:

قُلْ لا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi –karena sesungguhnya semua itu kotor- atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-An’am: 145)

Ditambah beberapa keterangan beberapa binatang haram yang disebutkan dalam hadis, seperti binatang buas yang bertaring, burung yang bercakar untuk menerkam musuh, atau khimar jinak, dan beberapa dalil lainnya.

Artinya, selain itu kembali kepada hukum asal, yaitu mubah. Karena hukum asal segala sesuatu adalah halal. Sementara tidak disebutkan keterangan tentang haramnya tulang.

Adapun statusnya sebagai makanan jin, tidaklah berpengaruh terhadap status hukum tulang. Karena ketetapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa tulang sebagai makanan jin, tidaklah menunjukkan larangan untuk memakannya. Dan tidak ada larangan untuk makan tulang.

Kemudian, orang yang meyakini haramnya tulang, dia wajib mendatangkan dalil. Karena jika tidak, maka dikhawatirkan dia dianggap berdusta atas nama syariah.

Ketika Allah menghalalkan sesuatu, maka hukum asalnya adalah halal semuanya, kecuali bagian yang membahayakan, karena alasan sisi bahayanya. Sehingga, ketika Allah halalkan binatang ternak, onta, sapi, atau kambing, berarti semua bagian dari hewan ini adalah halal, kecuali jika ada bagian yang haram.

Dalam kitab al-Mudawwanah dinyatakan,

مَا أُضِيفَ إلَى اللَّحْمِ مِنْ شَحْمٍ وَكَبِدٍ وَكَرِشٍ وَقَلْبٍ وَرِئَةٍ وَطِحَالٍ وَكُلًى وَحُلْقُومٍ وَخُصْيَةٍ وَكُرَاعٍ وَرَأْسٍ وَشِبْهِهِ ، فَلَهُ حُكْمُ اللَّحْمِ

Semua yang mengikuti status daging, seperti lemak, liver, kars (isi perut – usus dan sebangsanya), jantung, paru, limpa, ginjal, tenggorokan, skrontum, tengklek, kepala, dan semacamnya. Semuanya dihukumi sebagaimana hukum daging. (Tahdzib al-Mudawwanah, 3/87).

Sunnah untuk Makan Berjama’ah dalam Islam

Makan berjama’ah bukanlah ajaran sebagian kelompok dalam Islam. Namun makan seperti ini adalah makan yang disunnahkan dalam agama kita. Makan seperti ini dinilai lebih berkah, bahkan dikatakan bahwa sebenarnya satu porsi makanan itu bisa cukup untuk dua orang dan empat porsi untuk delapan orang.

Anjuran Makan Berjama’ah

Dalil yang menunjukkan anjuran makan secara berjama’ah adalah di antaranya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Makanan porsi dua orang sebenarnya cukup untuk tiga, makanan tiga cukup untuk empat.” (HR. Bukhari no. 5392 dan Muslim no. 2059, dari Abu Hurairah). Dalam lafazh Muslim disebutkan,

طَعَامُ الاِثْنَيْنِ كَافِى الثَّلاَثَةِ ، وَطَعَامُ الثَّلاَثَةِ كَافِى الأَرْبَعَةِ

طَعَامُ الْوَاحِدِ يَكْفِى الاِثْنَيْنِ وَطَعَامُ الاِثْنَيْنِ يَكْفِى الأَرْبَعَةَ وَطَعَامُ الأَرْبَعَةِ يَكْفِى الثَّمَانِيَةَ

Makanan porsi satu orang sebenarnya cukup untuk dua, makanan dua sebenarnya cukup untuk empat, dan makanan empat sebenarnya cukup untuk delapan.”

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (9: 535) berkata, “Kecukupan itu datang karena keberkahan dari makan secara berjama’ah. Cara jama’ah ini membuat yang menikmati makanan itu banyak sehingga bertambah pula keberkahan.”

Semakin Berkah

Dalil lain yang menunjukkan makan berjama’ah akan mendatangkan keberkahan adalah riwayat dari Wahsyi bin Harb dari ayahnya dari kakeknya bahwa para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَأْكُلُ وَلاَ نَشْبَعُ. قَالَ « فَلَعَلَّكُمْ تَفْتَرِقُونَ ». قَالُوا نَعَمْ. قَالَ « فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ ». قَالَ أَبُو دَاوُدَ إِذَا كُنْتَ فِى وَلِيمَةٍ فَوُضِعَ الْعَشَاءُ فَلاَ تَأْكُلْ حَتَّى يَأْذَنَ لَكَ صَاحِبُ الدَّارِ.

Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan dan tidak merasa kenyang?” Beliau bersabda, “Kemungkinan kalian makan sendiri-sendiri.” Mereka menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Hendaklah kalian makan secara bersama-sama, dan sebutlah nama Allah, maka kalian akan diberi berkah padanya.” (HR. Abu Daud no. 3764. Kata Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini dho’if. Sedangkan Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Ibnu Baththol berkata, “Makan secara bersama-sama adalah salah satu sebab datangnya barokah ketika makan.” (Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 18: 121)

Rasul dan Sahabat Mencontohkan Makan Sambil Berjama’ah

Dalil yang menunjukkan bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam makan secara berjama’ah disebutkan oleh ‘Aisyah, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- يَأْكُلُ طَعَامًا فِى سِتَّةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَجَاءَ أَعْرَابِىٌّ فَأَكَلَهُ بِلُقْمَتَيْنِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah makan bersama enam orang sahabatnya, lantas Arab Badui datang lalu memakan makanan beliau dengan dua suapan.” (HR. Tirmidzi no. 1858, Abu Daud no. 3767, Ibnu Majah no. 3264. Sanad hadits ini shahih kata Al Hafizh Abu Thohir).

Juga kita dapat lihat praktek sahabat mengenai makan secara berjama’ah. Dari Nafi’, ia berkata bahwa dahulu Ibnu ‘Umar tidak makan kecuali setelah didatangkan orang miskin dan beliau makan bersamanya. Kemudian Nafi’ pernah memasukkan seseorang untuk makan bersama Ibnu ‘Umar, lalu orang tersebut makan banyak. Ibnu ‘Umar pun berkata, “Wahai Nafi’, jangan masukkan orang ini untuk makan bersamaku, karena aku pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ يَأْكُلُ فِى مِعًى وَاحِدٍ وَالْكَافِرُ يَأْكُلُ فِى سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ

Seorang mukmin makan untuk satu usus, namun orang kafir untuk tujuh usus.” (HR. Bukhari no. 5393 dan Muslim no. 2060)

Sebagaimana disebutkan dalam Syarh Muslim, ada ulama yang menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah seorang mukmin biasa makan bersifat pertengahan. Imam Nawawi rahimahullah juga berkata bahwa para ulama mengatakan tentang maksud hadits yaitu untuk memiliki sedikit dunia, motivasi untuk zuhud dan qona’ah (hidup berkecukupan). Dan memang sedikit makan adalah bagian dari baiknya akhlak seseorang, sedangkan banyak makan itu kebalikannya.

Adapun perkataan Ibnu ‘Umar dalam hadits di atas tentang si miskin yang makan bersamanya dengan lahapnya, lantas beliau ucapkan pada Nafi’, “Jangan masukkan orang ini untuk makan bersamaku lagi”. Dikatakan seperti itu karena si miskin tersebut menyerupai (tasyabbuh pada) orang kafir. Siapa saja yang menyerupai orang kafir, maka dimakruhkan bergaul dengannya tanpa ada hajat atau bukan keadaan darurat. Lihat Syarh Shahih Muslim karya Imam Nawawi, 14: 25-26.

Hadits ini juga menjadi anjuran makan berjama’ah (bersama-sama dengan muslim lainnya) apalagi bersama orang miskin. Apalagi kita tahu bahwa Ibnu ‘Umar itu sangat bersemangat sekali melaksanakan ajaran Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Waktu yang Baik untuk Makan dalam Islam

Setiap orang pasti membutuhkan asupan makanan yang mencukupi. Setidaknya orang, mengonsumsi makanan sebanyak tiga kali dalam satu hari yakni sarapan, makan siang dan makan malam. Ternyata Rasulullah juga melakukan hal yang sama.

Sebagai panutan umat muslim, Rasulullah banyak mengajarkan dan mencontohkan banyak aktifitas sehari-hari termasuk salah satunya kegiatan makan. Berikut tiga waktu makan Nabi Muhammad SAW beserta anjuran menu makanannya yang baik dalam islam.

  1. Waktu Sarapan

Rasulullah (SAW) berkata: “Saya menyarankan Anda untuk minum madu.” Madu yang dikonsumsi untuk sarapan bisa dicampurkan dengan segelas air. Madu memiliki banyak manfaat baik untuk stamina maupun untuk sistem pencernaan dalam tubuh.

Selain madu, saat sarapan, Rasulullah juga mengonsumsi kurma dan susu. “Siapa pun memulai harinya dengan tujuh butir kurma maka tidak akan menderita racun atau sihir,” kata Rasulullah. Kurma dan susu bisa langsung dimakan atau kurma bisa direndam terlebih dulu dalam susu. Paduan susu dan kurma memiliki banyak kandungan vitamin dan mineral serta banyak kandungan alami yang berfungsi untuk menangkal racun.

  1. Waktu Makan Siang

“Tambahkan minyak zaitun dalam makanan. Minyak ini berasal dari pohon yang diberkahi,” kata Nabi Muhammad. Makan siang dengan sepotong roti gandum yang diberi tambahan satu sendok makan minyak zaitun dan cuka apel. Minyak zaitun memiliki banyak manfaat sepertimencegah kanker kulit dan kanker tulang, melarutkan kolesterol, serta mengatasi kepikunan.

Rasulullah (SAW) juga berkata: “Allah memberkati cuka untuk itu adalah bagian dari nabi diet.” Tambahan cuka apel pada menu makan siang akan membantu mengurangi lemak berbahaya yang terkandung dalam tubuh. Selain mengurangi, cuka apel juga membantu mengubah lemak menjadi zat yang lebih baik untuk tubuh.

  1. Waktu Makan Malam

Rasulullah (SAW) berkata: “Siapa pun yang melewati makan malam maka tubuhnya akan melemah.” Makan malam sifatnya wajib, isi perut dengan sepotong roti gandum dan segelas susu. Asupan makanan di malam hari membantu usus besar untuk memfermentasi makanan sehingga menghindari tubuh dari pendarahan.

Saat malam hari, Rasulullah biasa menyantap berbagai makanan seperti wortel, daun dill dan peterseli. Wortel memiliki kandungan alami yang terbukti baik sebagai bahan antioksidasi dan mencegah kanker serta penyakit penuaan. Sementara daun dill dan daun parsley memiliki kandungan yang bisa melindungi tubuh dari pembentukan kandungan empedu yang bisa menyebabkan kolesterol. Selain itu Rasulullah juga mengakhiri santap malamnya dengan buah-buahan seperti buah delima yang dipercaya bisa menguatkan organ perncernaan termasuk lambung.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak langsung tidur setelah makan malam. Beliau beraktivitas terlebih dahulu supaya makanan yang dikonsumsi masuk lambung dengan cepat dan baik sehingga mudah dicerna. Caranya juga bisa dengan shalat.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam sering menyempatkan diri untuk berolahraga. Terkadang beliau berolahraga sambil bermain dengan anak-anak dan cucu-cucunya. Pernah pula Rasulullah lomba lari dengan istri tercintanya, Aisyah radiyallahu’anha.

“Sesungguhnya telah ada dalam diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (al-Ahzab [33]: 21).

Dalam berbagai aktivitas dan pola kehidupan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memang sudah dirancang oleh Allah subhaanahu wa ta’ala sebagai contoh teladan yang baik (uswah hasanah) bagi semua manusia. Teladan ini mencakup berbagai aspek kehidupan termasuk dalam hal pola makan yang bermuara pada kesehatan tubuh secara keseluruhan

Pandangan Islam tentang Memakan Daging Kucing

Baru-baru ini kita dikejutkan berita pria paruh baya yang memakan kucing hidup-hidup. Hal ini tentu tidak dibenarkan di dalam agama manapun. Namun, bagaimana islam memandang tentang konsumsi daging kucing?

Dalam sebuah riwayat hadis dari Jabir yang pernah mendengar Rasulullah saw. melarang memakan daging kucing dan mengharamkan keuntungan dari jual beli daging kucing. (HR al-Tirmidzi, Abu Daud, dan lainnya).

Syekh al-Azhim Abadi dalam ‘Aunul Ma‘bud menjelaskan bahwa kucing liar maupun kucing rumahan itu haram dikonsumsi. Terlebih lagi, menurutnya, kucing itu mempunyai taring. Hewan yang bertaring untuk memangsa pada dasarnya haram dikonsumsi.

Hal ini senada dengan pendapat yang dianut Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab berikut ini.

ولا يحل السنور لِمَا رُوِيَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ (الهرة سبع) ولانه يصطاد بالناب ويأكل الجيف فهو كالاسد

Kucing itu tidak halal, karena terdapat sabda Nabi yang menyatakan bahwa kucing itu termasuk hewan memangsa. Kucing memangsa dengan taring dan terkadang memakan bangkai sebagaimana singa.

Bagaimana jika hanya jual beli kucing hanya untuk sebagai hewan peliharaan di rumah? Ulama berbeda pendapat mengenai hal ini. Mayoritas ulama membolehkan jual-beli kucing. Menurut Imam al-Rafii dalam Fathul Aziz mengatakan demikian.

واعلم أن الحيوانات الطاهرة علي ضربين (أحدهما) ما ينتفع به فيجوز بيعه كالغنم والبغال والحمير ومن الصيود كالظباء والغزلان ومن الجوارح كالصقور والبزاة والفهود ومن الطيور كالحمام والعصافير والعقاب * ومنه ما ينتفع بلونه أو صوته كالطاوس والزرزور وكذا الفيل والهرة وكذا القرد فانه يعلم الاشياء فيعلم.

Ketahuilah bahwa jenis hewan suci itu ada dua. Pertama, hewan yang dapat ambil manfaatnya, seperti kambing, bagal, keledai. Dari jenis hewan yang diburu, ada juga hewan suci seperti kijang dan antelop. Dari hewan pemangsa, ada elang, gagak, dan macan. Dari burung ada burung dara, emprit, dan gagak. Kedua, hewan yang dapat diambil manfaatnya karena keindahan warna bulu atau suaranya, seperti burung merak dan burung jalak. Begitu pun juga termasuk gajah, kucing, dan monyet, karena yang terakhir ini dapat diajarkan mengetahui banyak hal. 

Pola Makan Rasulullah SAW

“Sesungguhnya telah ada dalam diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (al-Ahzab [33]: 21).

Dalam berbagai aktivitas dan pola kehidupan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memang sudah dirancang oleh Allah subhaanahu wa ta’ala sebagai contoh teladan yang baik (uswah hasanah) bagi semua manusia. Teladan ini mencakup berbagai aspek kehidupan termasuk dalam hal pola makan yang bermuara pada kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Kesehatan merupakan aset kekayaan yang tak ternilai harganya. Ketika nikmat kesehatan dicabut oleh Allah subhaanahu wa ta’ala, maka manusia rela mencari pengobatan dengan biaya yang mahal bahkan ke tempat yang jauh sekalipun. Sayangnya, hanya sedikit orang yang penduli dan memelihara nikmat kesehatan yang Allah subhaanahu wa ta’ala telah anugerahkan sebelum dicabut kembali oleh-Nya.

Karena Allah telah menegaskan kepada kita bahwa Beliau (Rasulullah) adalah teladan, inilah teladan yg bisa kita ikut bagaimana pola makan Rasulullah Sallallahu A’laihi Wasallam agar Sehat dan berberkah dan mendapatkan amal.

Asupan awal kedalam tubuh Rasulullah adalah udara segar pada waktu subuh. Beliau bangun sebelum subuh dan melaksanakan qiyamul lail. Para pakar kesehatan menyatakan, udara sepertiga malam terakhir sangat kaya dengan oksigen dan belum terkotori oleh zat-zat lain, sehingga sangat bermanfaat untuk optimalisasi metabolisme tubuh. Hal itu sangat besar pengaruhnya terhadap vitalitas seseorang dalam aktivitasnya selama seharian penuh.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda :

“Dua nikmat yang sering kali manusia tertipu oleh keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang”. (HR. Bukhari no. 6412).

Dalam hadist lain disebutkan Rasulullah shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda,

“Nikmat yang pertama kali ditanyakan kepada seorang hamba pada hari kiamat kelak adalah ketika dikatakan kepadanya, “Bukankah Aku telah menyehatkan badanmu serta memberimu minum dengan air yang menyegarkan?”

(HR. Tirmidzi: 3358. dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani).

Menurut Indra Kusumah SKL, S.Psi dalam bukunya “Panduan Diet ala Rasulullah”, kesehatan sering dilupakan, padahal ia seakan-akan bisa diumpamakan sebagai mahkota indah di atas kepala orang-orang sehat yang tidak bisa dilihat kecuali oleh orang-orang yang sakit.

Sepintas masalah makan ini tampak sederhana, namun ternyata dengan pola makan yang dicontohkan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Beliau terbukti memiliki tubuh yang sehat, kuat dan bugar.

Ketika Kaisar romawi mengirimkan bantuan dokter ke Madinah, ternyata selama setahun dokter tersebut kesulitan menemukan orang yang sakit. Dokter tersebut bertanya kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tentang rahasia kaum muslimin yang sangat jarang mengalami sakit.

Seumur hidupnya, Rasulullah hanya pernah mengalami sakit dua kali sakit. Pertama, ketika diracun oleh seorang wanita Yahudi yang menghidangkan makanan kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam di Madinah. Kedua, ketika menjelang wafatnya.

Pola makan seringkali dikaitkan dengan pengobatan karena makanan merupakan penentu proses metabolisme pada tubuh kita. Pakar kesehatan selama ini mengenal dua bentuk pengobatan yaitu pengobatan sebelum terjangkit penyakit atau preventif (ath thib Al wiqo’i) dan pengobatan setelah terjangkit penyakit (at thib al’ilaji).

Dengan mencontoh pola makan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, kita sebenarnya sedang menjalani terapi pencegahan penyakit dengan makanan (attadawi bil ghidza).

Hal itu jauh lebih baik dan murah daripada harus berhubungan dengan obat-obat kimia senyawa sintetik yang hakikatnya adalah racun, berbeda dengan pengobatan alamiah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melalui makanan dengan senyawa kimia organik.

Beberapa gambaran pola hidup sehat Rasulullah berdasarkan berbagai riwayat yang bisa dipercaya, sebagai berikut:

1. Di pagi hari, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menggunakan siwak untuk menjaga kesehatan mulut dan gigi. Organ tubuh tersebut merupakan organ yang sangat berperan dalam konsumsi makanan. Apabila mulut dan gigi sakit, maka biasanya proses konsumsi makanan menjadi terganggu.

2. Di pagi hari pula Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam membuka menu sarapannya dengan segelas air dingin yang dicampur dengan sesendok madu asli. Khasiatnya luar biasa. Dalam Al Qur’an, madu merupakan syifaa (obat) yang diungkapkan dengan isim nakiroh menunjukkan arti umum dan menyeluruh. Pada dasarnya, bisa menjadi obat berbagai penyakit. Ditinjau dari ilmu kesehatan, madu berfungsi untuk membersihkan lambung, mengaktifkan usus-usus dan menyembuhkan sembelit, wasir dan peradangan.

“Sesungguhnya Rasulullah saw minum air zamzam sambil berdiri. “(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani’, dari Husyaim, dari `Ashim al Ahwal dan sebagainya,dari Sya’bi, yang bersumber dari Ibnu `Abbas r.a.)

“Sesungguhnya Rasulullah saw menarik nafas tiga kali pada bejana bila Beliau minum. Beliau bersabda : “Cara seperti ini lebih menyenangkan dan menimbulkan kepuasan.” (Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id, dan diriwayatkan pula oleh Yusuf bin Hammad,keduanya menerima dari `Abdul Warits bin Sa’id, dari Abi `Ashim, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)

“Minuman yang paling disukai Rasulullah saw adalah minuman manis yang dingin.”(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi `Umar, dari Sufyan, dari Ma’mar, dari Zuhairi, dari `Urwah, yang bersumber dari `Aisyah r.a.)

3. Masuk waktu dhuha (pagi menjelang siang), Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam senantiasa mengonsumsi tujuh butih kurma ajwa’ (matang). Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda, “Barang siapa yang makan tujuh butir kurma, maka akan terlindungi dari racun”.

Hal itu terbuki ketika seorang wanita Yahudi menaruh racun dalam makanan Rasulullah pada sebuah percobaan pembunuhan di perang khaibar. Racun yang tertelan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam kemudian dinetralisir oleh zat-zat yang terkandung dalam kurma. Salah seorang sahabat, Bisyir ibu al Barra’ yang ikut makan tersebut akhirnya meninggal, tetapi Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam selamat dari racun tersebut.

4. Menjelang sore hari, menu Rasulullah biasanya adalah cuka dan minyak zaitun. Selain itu, Rasulullah juga mengonsumi makanan pokok seperti roti. Manfaatnya banyak sekali, diantaranya mencegah lemah tulang, kepikunan di hari tua, melancarkan sembelit, menghancurkan kolesterol dan melancarkan pencernaan. Roti yang dicampur cuka dan minyak zaitun juga berfungsi untuk mencegah kanker dan menjaga suhu tubuh di musim dingin.

“Keluarga Nabi saw tidak pernah makan roti sya’ir sampai kenyang dua hari berturut-turut hingga Rasulullah saw wafat.” (Diriwayatkan oleh Muhammad bin al Matsani, dan diriwayatkan pula oleh Muhammad bin Basyar, keduanya menerima dari Muhammad bin Ja’far, dari Syu’bah, dari Ishaq, dari Abdurrahman bin Yazid, dari al Aswad bin Yazid, yang bersumber dari `Aisyah r.a.)

Sya’ir,khintah dan bur, semuanya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan “gandum” sedangkan sya’ir merupakan gandum yang paling rendah mutunya. Kadang kala ia dijadikan makanan ternak, namun dapat pula dihaluskan untuk makanan manusia. Roti yang terbuat dari sya’ir kurang baik mutunya sya’ir lebih dekat kepada jelai daripada gandum.

Abdurrahman bin Yazid dan al Aswad bin Yazid bersaudara, keduanya rawi yang tsiqat.”Rasulullah saw. tidak pernah makan di atas meja dan tidak pernah makan roti gandum yang halus, hingga wafatnya.”(Diriwayatkan oleh `Abdullah bin `Abdurrahman, dari’Abdullah bin `Amr –Abu Ma’mar-,dari `Abdul Warits, dari Sa’id bin Abi `Arubah, dari Qatadah, yang bersumber dari Anas r.a.)

“Sesungguhnya Rasulullah bersabda: “Saus yang paling enak adalah cuka.”
Abdullah bin `Abdurrahman berkata : “Saus yang paling enak adalah cuka.”(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Shal bin `Askar dan `Abdullah bin`Abdurrahman,keduanya menerima dari Yahya bin Hasan,dari Sulaiman bin Hilal, Hisyam bin Urwah, dari bapaknya yang bersumber dari `Aisyah r.a.)

“Rasulullah saw bersabda : “Makanlah minyak zaitun dan berminyaklah dengannya. Sesungguhnya ia berasal dari pohon yang diberkahi.”(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Abu Ahmad az Zubair, dan diriwayatkan pula oleh Abu Nu’aim, keduanya menerima dari Sufyan, dari ` Abdullah bin `Isa, dari seorang laki-laki ahli syam yang bernama Atha’, yang bersumber dari Abi Usaid r.a.)

5. Di malam hari, menu utama makan malam Rasulullah adalah sayur-sayuran. Beberapa riwayat mengatakan, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam selalu mengonsumsi sana al makki dan sanut. Menurut Prof. Dr. Musthofa, di Mesir deudanya mirip dengan sabbath dan ba’dunis. Mungkin istilahnya cukup asing bagi orang di luar Arab, tapi dia menjelaskan, intinya adalah sayur-sayuran. Secara umum, sayuran memiliki kandungan zat dan fungsi yang sama yaitu menguatkan daya tahan tubuh dan melindungi dari serangan penyakit.

6. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak langsung tidur setelah makan malam. Beliau beraktivitas terlebih dahulu supaya makanan yang dikonsumsi masuk lambung dengan cepat dan baik sehingga mudah dicerna. Caranya juga bisa dengan shalat.

7. Disamping menu wajib di atas, ada beberapa makanan yang disukai Rasulullah tetapi tidak rutin mengonsumsinya. Diantaranya, tsarid yaitu campuran antara roti dan daging dengan kuah air masak. Beliau juga senang makan buah yaqthin atau labu air, yang terbukti bisa mencegah penyakit gula. Kemudian, beliau juga senang makan buah anggur dan hilbah (susu).

“Nabi saw memakan qitsa dengan kurma (yang baru masak).”(Diriwayatkan oleh Isma’il bin Musa al Farazi, dari Ibrahim bin Sa’id, dari ayahnya yang bersumber dari `Abdullah bin Ja’far r.a.)

Qitsa adalah sejenis buah-buahan yang mirip mentimun tetapi ukurannya lebih besar (Hirbis) “Sesungguhnya Nabi saw memakan semangka dengan kurma (yang baru masak)”(Diriwayatkan oleh Ubadah bin `Abdullah al Khaza’i al Bashri, dari Mu’awiyah bin Hisyam,dari Sufyan, dari Hisyam bin `Urwah, dari bapaknya, yang bersumber dari `Aisyah r.a.)

8. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam sering menyempatkan diri untuk berolahraga. Terkadang beliau berolahraga sambil bermain dengan anak-anak dan cucu-cucunya. Pernah pula Rasulullah lomba lari dengan istri tercintanya, Aisyah radiyallahu’anha.

9. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak menganjurkan umatnya untuk begadang. Hal itu yang melatari, beliau tidak menyukai berbincang-bincang dan makan sesudah waktu isya. Biasanya beliau tidur lebih awal supaya bisa bangun lebih pagi. Istirahat yang cukup dibutuhkan oleh tubuh karena tidur termasuk hak tubuh.

10. Pola makan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam ternyata sangat cocok dengan irama biologi berupa siklus pencernaan tubuh manusia yang oleh pakar kesehatan disebut circadian rhytme (irama biologis).



Fakta-fakta di atas menunjukkan pola makan Rasulullah ternyata sangat cocok dengan irama biologi berupa siklus pencernaan tubuh manusia yang oleh pakar kesehatan disebut circadian rhytme (irama biologis). Inilah yang disebut dengan siklus alami tubuh yang menjadi dasar penerapan Food Combining (FC).

Selain itu, ada beberapa makanan yang dianjurkan untuk tidak dikombinasikan untuk dimakan secara bersama-sama. Makanan-makanan tersebut antara lain:

Jangan minum susu bersama makan daging.
Jangan makan ayam bersama minum susu.
Jangan makan ikan bersama telur.
Jangan makan ikan bersama daun salad.
Jangan minum susu bersama cuka.
Jangan makan buah bersama minum susu
Demikianlah Pola makan Rasulullah, semoga bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Mengapa Lebih Baik Makan Tanpa Bicara

Dalam menyantap makanan terdapat beberapa adab yang telah diatur dalam ajaran Islam. Dengan menjaga dan mengamalkan adab tersebut, seseorang tak hanya mendapat pahala tapi juga akan mendapat kesan yang baik di mata orang lain. Salah satu adab yang dianjurkan untuk dilakukan oleh seseorang yang menyantap makanan adalah memuji makanan yang ia makan. Dalam hal ini Rasulullah pernah memuji makanan yang ia makan walau hanya sebatas lauk cuka yang bisa dibilang termasuk lauk paling sederhana. Hal tersebut dijelaskan dalam hadits riwayat Sahabat Jabir:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – سَأَلَ أَهْلَهُ الأُدُمَ فَقَالُوا مَا عِنْدَنَا إِلاَّ خَلٌّ. فَدَعَا بِهِ فَجَعَلَ يَأْكُلُ بِهِ وَيَقُولُ « نِعْمَ الأُدُمُ الْخَلُّ نِعْمَ الأُدُمُ الْخَلُّ »
“Diriwayatkan dari sahabat Jabir bin Abdillah bahwa Nabi Muhammad SAW meminta pada keluarganya lauk-pauk, lalu keluarga beliau menjawab: ‘Kami tidak memiliki apa pun kecuali cuka’. Nabi pun tetap meminta cuka dan beliau pun makan dengan (campuran) cuka, lalu beliau bersabda: ‘Lauk yang paling baik adalah cuka, lauk yang paling baik adalah cuka’.” (HR Muslim)

Tujuan Rasulullah mengucapkan hal itu tak lain merupakan wujud menggembirakan kepada orang-orang yang makan, terlebih kepada orang yang memberinya lauk cuka tersebut yang dalam hal ini adalah keluarganya sendiri. Dalam menjelaskan hal ini, Imam Nawawi dalam mensyarahi hadits di atas mengungkapkan:

وفيه استحباب الحديث على الأكل تأنيسا للآكلين
“Dalam hadits tersebut tersirat pemahaman tentang kesunnahan berbicara atas makanan untuk menggembirakan orang-orang yang makan.” (Syekh Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Syarh an-Nawawi ala al-Muslim, juz 7, hal. 14)
Jika ditelisik secara mendalam, rupanya pujian yang dilontarkan oleh Rasulullah SAW dalam hadits di atas beliau ucapkan pada saat sedang beraktivitas menyantap makanan. Atas dasar ini, berbicara pada saat menyantap makanan bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan, bahkan merupakan anjuran tersendiri, sebab merupakan salah satu adab dalam menyantap makanan. 
Isi pembicaraan yang baik diucapkan pada saat menyantap makanan tidaklah mencakup semua pembicaraan, tapi hanya tertentu pada pembicaraan-pembicaraan yang baik, seperti bercerita tentang orang-orang saleh, pembicaraan yang dapat menyenangkan orang-orang yang makan, dan hal-hal lainnya. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam kitab al-Adzkar an-Nawawiyah:
ـ (باب استحباب الكلام على الطعام) فيه حديث جابر الذي قدمناه في “باب مدح الطعام” . قال الإمام أبو حامد الغزالي في “الإحياء” من آداب الطعام أن يتحدثوا في حال أكله بالمعروف ، ويتحدثوا بحكايات الصالحين في الأطعمة وغيرها
“Bab kesunnahan berbicara atas makanan. Dalam menjelaskan bab ini terdapat hadits Sahabat Jabir yang telah disebutkan di awal dalam bab ‘Memuji makanan’. Imam Abu Hamid al-Ghazali berkata: ‘Sebagian adab makan adalah berbicara pada saat makan dengan pembicaraan yang baik dan bercerita tentang kisah orang-orang saleh dalam hal (menyikapi) makanan dan hal-hal lainnya.” (Syekh Syaraf bin Yahya An-Nawawi, Al-Adzkar an-Nawawiyah, juz 2, hal. 1)
Namun anjuran berbicara pada saat menyantap makanan hendaknya tidak dilakukan pada saat seseorang sedang mengunyah, sebab hal ini dikhawatirkan akan membuat makanan yang sedang dikunyah jatuh pada makanannya dan mengotori makanan tersebut, penjelasan tentang hal ini seperti yang dijelaskan dalam syarah kitab Ihya’ Ulum ad-Din, yakni kitab Ittihaf as-Sadat al-Muttaqiin:
ـ (ويتحدثون بحكايات الصالحين في الأطعمة وغيرها) ليعتبروا بذلك ولكن لا يتكلم وهو يمضغ اللقمة فربّما يبدو منها شيء فيقذر الطعام
“Bercerita tentang kisah orang-orang saleh dalam hal (menyikapi) makanan dan hal-hal lainnya supaya orang-orang dapat mengambil teladan atas kisah tersebut, akan tetapi (hendaknya) seseorang tidak berbicara saat ia mengunyah makanan, terkadang jatuh dari (mulutnya) sedikit makanan dan mengotori makanan yang dimakan.” (Muhammad bin Muhammad al-Husaini Az-Zabidi, Ittihaf as-Sadat al-Muttaqin, juz 5, hal. 229) 
Berdasarkan dalil di atas maka baiknya pembicaraan saat menyantap makanan diucapkan pada saat makanan sudah selesai dikunyah dan tidak lagi tersisa makanan dalam mulutnya, agar potongan-potongan makanan yang masih di dalam mulut tidak terjatuh dalam santapan makanannya. 
Dengan demikian, makan sambil berbicara bukanlah sesuatu yang dilarang, justru dianjurkan, asal dilakukan dalam waktu yang tepat dan dengan materi pembicaraan yang baik dan bermanfaat, seperti menggembirakan orang lain, menambah keakraban, dan lain-lain.

Selain secara agama, makan sambil berbicara dapat menimbulkan berbagai macam masalah dan penyakit, misalnya saja;

1. Asam lambung naik

Pencernaan bekerja ketika Anda makan, sehingga bergerak dan bicara akan mengganggu pencernaan Anda. Ini terjadi karena partikel makanan tidak dipecah dengan benar dan tetap berada di usus. Hal ini mengakibatkan Anda menjadi lesu, mengalami gangguan pencernaan, dan banyak masalah lainnya.

2. Perut kembung

Ini efek yang kerap terjadi ketika Anda terlambat pergi ke kantor dan mengambil sepotong roti atau apel kemudian memakannya di jalan.

3. Peningkatan aktivitas kandung kemih

Hal ini terjadi pada kebanyakan individu yang minum kopi atau teh sambil berjalan dan bercakap-cakap atau saat mengemudi. Dorongan untuk buang air kecil meningkat akibat kafein.

4. Mual

Jika Anda sudah sering mengalami mual, maka bisa jadi karena aktivitas yang salah saat makan. Makanan yang dikonsumsi ini dirancang untuk menghasilkan, tetapi jika perut tidak diberi istirahat yang cukup, maka bisa menimbulkan masalah kesehatan yang merugikan.

Mual sebagian besar dirasakan saat seseorang minum susu hangat atau protein secara tergesa-gesa. Hal ini karena tubuh membutuhkan waktu untuk mencerna dan memecahnya.

5. Pembentukan gas

Pembentukan gas adalah masalah umum yang terkait dengan gangguan pencernaan dan kembung. Hal itu bisa membuat Anda merasa tidak nyaman dan lesu. Dalam kasus yang merugikan, pembentukan gas menyebabkan nyeri dada parah dan bahkan stroke ringan. Jadi jika Anda adalah salah satu dari mereka yang cenderung minum minuman berkarbonasi dan kafein saat bepergian, hal ini mungkin akan menjadi masalah serius bagi tubuh Anda.

6. Makan lebih banyak:

Aspek penting lainnya dari makan sambil bergerak adalah orang cenderung makan lebih banyak dan gagal melacak tingkat nafsu makan dan terus mengunyah makanan. Hal ini pasti akan menyebabkan perut kembung karena makan berlebih dan menambahkan ekstra kilo ke lingkar pinggang Anda.

Mengapa Lebih Baik Makan Sembari Duduk?

Dalam masyarakat kita, duduk ketika minum dan makan sudah menjadi norma sosial yang sudah sejak lama berlaku. Bahkan dalam kehidupan keluarga, salah satu nasehat yang sering kita dapatkan pada saat makan bersama adalah nasehat untuk minum dan makan sambil duduk.

Ketika kita kedapatan minum dan makan berdiri, maka kita akan segera mendapat teguran karena dianggap tidak menjaga sopan santun dan adab minum dan makan. Lantas bagaimana sebenarnya hukum minum dan makan sambil berdiri dalam Islam?

Minum dan makan dalam Islam sangat dianjurkan untuk dilakukan sambil duduk. Hal ini karena kebiasaan Nabi Saw dan para sahabatnya adalah minum dan makan sambil duduk. Bahkan Nabi Saw suatu ketika menegur seorang sahabat yang kedapatan minum sambil berdiri. Dari Anas bin Malik, dia berkata:

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- زَجَرَ عَنِ الشُّرْبِ قَائِمًا

“Nabi Saw sungguh melarang dari minum sambil berdiri.”

Dalam kesempatan berbeda, Anas bin Malik mengisahkan larangan Nabi Saw kepada seorang sahabat yang minum sambil berdiri.

عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ نَهَى أَنْ يَشْرَبَ الرَّجُلُ قَائِمًا

“Dari Nabi Saw, sesungguhnya beliau melarang seseorang minum sambil berdiri”.

Namun di samping itu, ada pula hadis yang menunjukkan bahwa Nabi Saw minum air zamzam sambil berdiri. Dalam hadis riwayat imam al-Bukhari dari Ibnu Abbas, dia berkata;

سَقَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ زَمْزَمَ فَشَرِبَ قَائِمًا

“Aku memberi minum kepada Rasulullah Saw dari air zamzam, lalu beliau minum sambil berdiri.”

Dalam hadis lain riwayat imam al-Timidzi dan Ibnu Majah disebutkan keadaan sahabat Nabi Saw makan sambil jalan dan minum sambil berdiri. Hadis tersebut dari Ibnu Umar, dia berkata;

كُنَّا نَأْكُلُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَنَحْنُ نَمْشِى وَنَشْرَبُ وَنَحْنُ قِيَامٌ

“Kami dahulu pernah makan di masa Nabi Saw sambil berjalan dan kami minum sambil berdiri.”

Pada hadis pertama dan kedua, Nabi Saw melarang minum sambil berdiri sedangkan hadis ketiga dan keempat menunjukkan kebolehan minum dan makan sambil berdiri. Dari keempat hadis ini para ulama, di ataranya Ibnu Hajar, berkesimpulan bahwa minum sambil berdiri diperbolehkan, meski yang lebih utama dan lebih baik adalah minum sambil duduk.

Larangan Nabi Saw kepada sahabat agar tidak minum sambil berdiri bertujuan untuk lit ta’dib, mendidik untuk melakukan yang lebih utama. Larangan tersebut bukan lit tahrim, karena haram.

Sedangkan makan sambil berdiri para ulama sepakat bahwa perbuatan tersebut tidak haram. Hanya saja lebih utama dan lebih baik adalah makan sambil duduk sepeti halnya minum