Pandangan Islam Tentang Memakan Jangkrik

Jangkrik merupakan salah satu jenis serangga. Hewan ini biasanya hidup di berbagai tempat yang basah dan dingin. Jangkrik dapat kita temukan lewat suara khas yang keluar dari hewan tersebut, terutama pada saat malam hari.

Selain berguna sebagai salah satu pakan dari burung, jangkrik rupanya sudah mulai dikenal oleh sebagian masyarakat sebagai makanan yang juga dikonsumsi orang, baik dalam bentuk jangkrik goreng, keripik, atau sejenisnya.  Sebelum hal ini merambah semakin luas, alangkah baiknya jika kita mengetahui tentang status kehalalan atau keharaman dari hewan ini.
Di antara jenis hewan yang diharamkan oleh syariat adalah segala jenis hewan yang dipandang menjijikkan oleh orang Arab, termasuk dari bagian hewan ini adalah segala jenis hasyarat yaitu hewan-hewan kecil yang melata di tanah, seperti tikus, kumbang, ular dan hewan-hewan lainnya. Selain haram mengonsumsi hewan hasyarat, menjual-belikan hewan ini juga diharamkan dan dihukumi tidak sah. Seperti yang dijelaskan dalam kitab Nihayah al-Muhtaj:
ـ (فلا يصح بيع الحشرات) وهى صغار دواب الأرض كفأرة وخنفساء وحية وعقرب ونمل
“Tidak sah menjual hewan-hewan hasyarat yakni hewan-hewan kecil yang melata di tanah seperti tikus, kumbang, ular, kalajengking dan lebah” (Syekh SyamsuddinMuhammad  bin Abi al-Abbas bin Syihabuddin ar-Ramli, Nihayah al-Muhtaj, juz IV, hal. 395)
Hewan jangkrik tanpa diragukan lagi termasuk dalam kategori hewan hasyarat ini, sehingga hukum mengonsumsi jangkrik adalah haram, sebab dipandang sebagai hewan yang menjijikkan menurut orang Arab, hal ini seperti yang ditegaskan dalam kitab Hayat al-Hayawan al-Kubra:
الصرصر – حيوان فيه شبه من الجراد ، قفاز يصيح صياحاً رقيقاً ، وأكثر صياحه بالليل ولذلك سمي صرار الليل ، وهو نوع من بنات وردان عري عن الأجنحة . وقيل : إنه الجدجد وقد تقدم أن الجوهري فسر الجدجد بصرار الليل ، ولا يعرف مكانه إلا بتتبع صوته ، وأمكنته المواضع الندية ، وألوانه مختلفة فمنه ما هو أسود ، ومنه ما هو أزرق ومنه ما هو أحمر ، وهو جندب الصحارى والفلوات وحكمه : تحريم الأكل لاستقذاره 
Sharshar (jangkrik) adalah hewan yang menyerupai belalang, terkadang hewan tersebut bersuara dengan suara yang lirih. Seringkali hewan ini bersuara pada saat malam hari, karena hal tersebut maka hewan ini juga disebut dengan shurrarul laili. Hewan ini merupakan bagian dari jenis bintu wardan yang tidak memiliki sayap (yang bisa terbang). Hewan ini juga disebut judjud, seperti halnya yang dijelaskan pada pembahasan yang telah lalu bahwa Syekh al-Jauhari mengartikan judjud dengan hewan jangkrik. Keberadaan jangkrik tidak akan dapat diketahui kecuali dengan meneliti dari suaranya, hewan ini menyukai tempat-tempat yang basah. Warnanya berbeda-beda, ada yang berwarna hitam, biru dan merah. Hewan ini hampir sama dengan belalang yang sering ditemukan di hutan belantara. Hukum mengonsumsi hewan ini adalah haram karena dianggap hewan yang menjijikkan.” (Syekh Kamaluddin ad-Damiri, Hayat al-Hayawan al-Kubra, juz 2, hal. 86)
Yang menjadi pijakan tentang menjijikkan atau tidaknya suatu hewan adalah menurut cara pandang orang Arab. Jika terdapat sebagian orang yang menganggap bahwa hewan jangkrik bukanlah hewan yang menjijikkan untuk dimakan, hal tersebut sama sekali tidak dapat mengubah terhadap keharaman jangkrik yang berpijak pada cara pandang orang Arab secara umum. Dalam kitab-kitab fiqih, orang Arab menjadi standar menjijikkan atau tidaknya suatu hewan, sebab kepada merekalah yang pertama kali menjadi khitab wahyu (sasaran dakwah Islam masa awal). Wallahu a’lam.

Anjuran Makan Buah Sebelum Makan Utama

Mungkin telah tersebar informasi adanya anjuran makan buah sebelum makan utama. Dan ini dinisbatkan kepada Islam atau ini adalah anjuran agama Islam. Ternyata ini bukan HOAX dan ada beberapa ulama yang berpendapat demikian,di antaranya Imam An-Nawawi rahimahullah.

Memang benar secara kesehatan dianjurkan makan buah sebelum makan besar, karena lebih memudahkan penyerapan buah dan gizi yang terkandung di dalamnya dan tidak bersaing dengan penyerapan makanan utama serta bisa juga meningkatkan kadar glukosa darah. Akan tetapi ini efektif jika makan buah 30 menit sampai 2 jam sebelum makan atau 1-2 jam setelah makan.

Jika makan buah dulu,  baru tidak berselang lama, langsung makan besar tanpa jarak waktu minimal 30 menit. Maka ini sama saja dengan makan buah setelah makan, buah akan bersaing penyerapannya dengan makanan utama. Akan tetapi ada juga yang mengatakan, walaupun tidak 30 menit, minimal pencernaannya lebih utama buah dan lebih maksimal.

Terlepas dari pembahasan dari segi kesehatan, tetap saja kita harus menghormati saudara kita yang berpegang dengan pendapat ulama bahwa di antara adab makan adalah mendahulukan buah baru makan besar/pokok.

Berikut pembahasannya

Dalil makan buah sebelum makan

Di antara dalilnya adalah surat Al-Waqiah. Allah Ta’ala berfirman,

وَفَاكِهَةٍ مِمَّا يَتَخَيَّرُونَ (20) وَلَحْمِ طَيْرٍ مِمَّا يَشْتَهُونَ

Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan”. (Al Waqi’ah 20-21)
di antara ulama ada yang berdalil bahwa Allah menyebut buah dahulu baru daging sebagai dalil anjuran dalam islam, makan buah dahulu baru makanan pokok

Al-Gazali rahimahullah berkata,

ويستحب تقديم الفاكهة إن كانت فذلك أوفق في الطب، فإنها أسرع استحالة فينبغي أن تقع في أسفل المعدة وفي القرآن الكريم تنبيه على تقديم الفاكهة في قوله تعالى: وَفَاكِهَةٍ مِمَّا يَتَخَيَّرُونَ ثم قال: وَلَحْمِ طَيْرٍ مِمَّا يَشْتَهُونَ.

“Dianjurkan mendahulukan makan buah jika karena sesuai dengan ilmu kedokteran yaitu lebih cepat dicerna maka lebih baik buah lebih bawah (dalam perut) daripada hidangan (makanan pokok). Dalam Al-Quran ada peringatan untuk mendahulukan makan buah yaitu dalam firman Allah,”Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan”.

Akan tetapi ada ulama yang TIDAK SETUJU dengan pendalilan seperti ini akan tetapi membenarkan bahwa adab makan mendahulukan buah dari makanan utama.

Syaikh Shalih Al-Munajjid hafidzahullah berkata,

يعني أن تقديم الفاكهة قبل الطعام أحسن؛ لأنه أسرع لهضمها، وبعضهم يستند بقوله تعالى: في ضيافة أهل الجنة أو طعام أهل الجنة: وَفَاكِهَةٍ مِمَّا يَتَخَيَّرُونَ * وَلَحْمِ طَيْرٍ مِمَّا يَشْتَهُونَ [الواقعة:20-21] فقدم الفاكهة على الطعام، لكن هذا لا يستلزم أن يكون دليلاً، فمجرد ذكره معطوفاً عليه لا يكون دليلاً على تقديم الفاكهة، ثم إن الوضع في الجنة قد يختلف عن الدنيا.. على أية حال سواء قدموا الفاكهة قبل الأكل أو بعده فالأمر واسع

“Yaitu mendahulukan buah daripada makanan utama lebih baik karena lebih cepat dicerna. Sebagian (ulama) berdalil dengan firman Allah pada jamuan penduduksurga dan mereka mendahulukan buah dari makanan utama.

Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan

Akan tetapi ini tidaklah menjadi dalil, semata-mata menyebut sebagai ma’tuf (urutan) tidaklah menjadi dalil untuk mendahulukan buah. Kemudian (yang menjadi alasan juga) keadaan di surga berbeda dengan di dunia, sama saja mendahulukan buah sebelum makan atau makan sesudahnya, maka perkaranya lapang.”

Akan tetapi ada dalil yang lainya sebagaimna disebutkan oleh Imam AN-Nawawi rahimahullah,

وقد ذكر النووي عند شرح حديث أبي الهيثم بن التيهان لما أتاه النبي صلى الله عليه وسلم وأبو بكر وعمر فجاءهم بعذق فيه بسر وتمر ورطب، فقال: كلوا من هذه، ثم أخذ المدية وانطلق ليذبح لهم.

ذكر النووي في شرحه أن فيه دليلا على استحباب تقديم الفاكهة على الخبز واللحم وغيرهما.

“Imam An-nawawi telah menyebutkan ketika menjelaskan hadits Abi Al-Haitsam bin Thihan tatkala ia datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan ada Abu Bakar dan Umar. Ia membawa wadah yang berisi kurma basah dan kurma kering, kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkata,

‘makanlah ini (kurma), kemudian mengambil hidangan dan kemudian pergi

Imam AN-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini sebagai dalil dianjurkannya mendahulukan makan buah, baru kemudian roti, daging dan makanan pokok lainnya.

Demikian semoga kita bisa bijak menyikapi hal ini dan menghormati saudara kita yang mengambil pendapat ulama yang berdalil dengan hal ini.

Bolehkah Umat Islam Memakan Daging Mentah?

Syariat sejak awal telah menjelaskan secara gamblang mengenai beberapa hal yang berkaitan dengan halal-haramnya berbagai macam makanan: mana yang boleh dikonsumsi dan mana yang tidak boleh dikonsumsi. Mengenai halal-haramnya makanan ini salah satunya dijelaskan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala

قُلْ لا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّماً عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَماً مَسْفُوحاً أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقاً أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ 
“Katakanlah, ‘Tidak kudapati di dalam apa yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan memakannya bagi yang ingin memakannya, kecuali daging hewan yang mati (bangkai), darah yang mengalir, daging babi, karena semua itu kotor atau hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah,” (QS. Al-An’am: 145).
Berdasarkan dalil di atas dapat dipahami bahwa daging yang haram untuk dimakan adalah daging hewan bangkai, daging yang masih terdapat darah di dalamnya, daging babi dan daging yang disembelih untuk tujuan selain Allah. Sedangkan yang dimaksud dengan bangkai dalam ayat di atas adalah daging yang berasal dari hewan yang mati tanpa disembelih secara syara’ (Syekh Ibnu Qasim al-Ghazi, Fath al-Qarib al-Mujib, hal. 28).
Lantas bagaimana dengan mengonsumsi daging yang masih mentah? Seperti aneka masakan yang tersaji di restoran khas Jepang, misalnya; apakah tergolong sebagai hal yang diharamkan?
Mengonsumsi daging secara mentah adalah hal yang diperbolehkan selama daging yang dikonsumsi bukan termasuk kategori daging dari hewan-hewan yang diharamkan dan tidak ada najis yang masih melekat dalam daging tersebut, seperti darah misalnya.
Meski diperbolehkan, namun para ulama masih berbeda pendapat mengenai makruh tidaknya mengonsumsi daging secara mentah ini. Dalam kitab al-Iqna’ dijelaskan bahwa mengonsumsi daging mentah adalah hal yang dimakruhkan, seperti halnya hukum membiasakan makan daging secara terus-menerus dan memakan daging yang sudah busuk (bau). Namun, dalam kitab yang lain menyebutkan ketidakmakruhan mengonsumsi daging secara mentah, sehingga hukumnya hanya sebatas mubah.
Penjelasan di atas teringkas dalam kitab Ghidza’ al-Albab Syarh Mandzumah al-Adab berikut ini:
هَلْ يُكْرَهُ أَكْلُ اللَّحْمِ نِيئًا ، أَوْ لَا ؟ جَزَمَ فِي الْإِقْنَاعِ بِالْكَرَاهِيَةِ وَعِبَارَتُهُ : وَتُكْرَهُ مُدَاوَمَةُ أَكْلِ لَحْمٍ وَأَكْلُ لَحْمٍ مُنْتِنٍ وَنِيءٍ انْتَهَى . وَصَرَّحَ فِي الْمُنْتَهَى بِعَدَمِ الْكَرَاهَةِ فِي النِّيءِ ، وَالْمُنْتِنِ . قَالَ شَارِحُهُ نَصًّا وَلَمْ يَذْكُرْ خِلَافَ الْإِقْنَاعِ ، وَكَذَا الْغَايَةُ صَرَّحَ بِعَدَمِ الْكَرَاهَةِ وَلَمْ يُشِرْ لِلْخِلَافِ 
“Apakah dimakruhkan mengonsumsi daging mentah atau tidak? Syekh Abu Naja al-Hajawi dalam kitab al-Iqna’ menegaskan kemakruhan mengonsumsi daging mentah, berikut redaksinya: “Dimakruhkan terus-menerus mengonsumsi daging, makruh pula mengonsumsi daging yang busuk dan daging mentah”. Sedangkan Ibnu Najjar dalam kitab al-Muntaha menegaskan ketidak makruhan mengonsumsi daging mentah dan daging yang busuk. Bahkan ulama yang mensyarahi kitab tersebut menyebutkan kata ‘nasshan’ (secara jelas) tanpa menyebutkan perbedaan pandangan yang terdapat dalam kitab al-Iqna’. Begitu juga dalam kitab al-Ghayah menegaskan ketidakmakruhan mengonsumsi daging mentah, tanpa mengisyaratkan adanya perbedaan pendapat,” (Syekh Muhammad bin Ahmad bin Salim as-Safarini, Ghidza’ al-Albab Syarh Mandzumah al-Adab, juz 2, hal. 121).
Berbeda halnya ketika dengan mengonsumsi daging mentah akan menyebabkan bahaya pada diri sendiri, misalnya seseorang meyakini bahwa dengan mengonsumsi daging mentah maka kesehatannya akan terganggu atau penyakit yang dimilikinya akan kambuh. Maka dalam keadaan demikian memakan daging mentah adalah hal yang dilarang. Hal ini sesuai dengan kaidah “adl-dlarar yuzâlu” (bahaya harus dihilangkan) dan berdasarkan firman Allah:
وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التّهْلُكَةِ
“Dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri” (QS. Al-Baqarah: 195)
Selain itu juga harus dipastikan bahwa daging yang dimakan benar-benar halal dan disembelih oleh orang Muslim atau ahli kitab (pemeluk agama yahudi atau nasrani). Jika daging yang masih mentah ternyata berasal dari hewan yang disembelih oleh orang selain Muslim dan ahli kitab, maka mengonsumsi daging tersebut tidak diperbolehkan.
Sedangkan ketika seseorang tidak mengetahui pada orang yang menyembelih daging yang hendak ia makan, maka langkah yang harus dilakukan olehnya adalah mencari petunjuk tentang asal muasal daging yang akan ia makan.

Maka dengan demikian dapat disimpulkan bahwa mengonsumsi daging dalam keadaan masih mentah adalah hal yang diperbolehkan selama daging tersebut (1) bukan termasuk kategori daging hewan yang diharamkan, (2) tidak ada najis yang melekat pada daging itu, serta (3) diyakini tidak ada dampak membahayakan bagi orang yang mengonsumsinya. 

Sehingga sebaiknya bagi orang yang hendak mengonsumsi daging yang masih mentah agar benar-benar memastikan kehalalan daging yang akan dimakan dan memastikan tidak adanya najis yang masih melekat dalam daging tersebut. Ketika masih ragu tentang asal muasal daging mentah yang hendak ia makan, (apakah dari hewan yang halal atau haram, disembelih secara syar’i atau tidak) maka sebaiknya agar hal tersebut dihindari karena tergolong makanan yang syubhat. Wallahu a’lam

Bagaimana Islam Memandang Makan All You Can Eat?

ilustrasi makanan all you can eat

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli gharar. karena transaksi ini pemicu terbesar terjadinya permusuhan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli gharar.” (HR. Muslim 3881, Nasai 4535, dan yang lainnya).

Dan termasuk diantara jual beli gharar adalah transaksi yang ukuran objeknya tidak jelas. Karena itu, kejelasan ukuran objek dalam transaksi menjadi salah satu syarat sahnya jual beli.

Ad-Dasuqi dalam Hasyiyahnya – fiqh Maliki – mengatakan,

لا بد من كون الثمن والمثمن معلومين للبائع والمشتري وإلا فسد البيع

“Harga dan barang harus jelas, diketahui penjual dan pembeli. Jika tidak maka transaksinya batal.” (Hasyiyah ad-Dasuqi, 3/15).

Ibnu Abidin – ulama Hanafi – mengatakan,

وشرط لصحته معرفة قدر مبيع وثمن

“Syarat sahnya jual beli adalah diketahuinya ukuran barang dan harga barang.” (Hasyiyah Ibnu Abidin, 4/529).

Dalam kasus bayar 100 rb, atau 50 rb, boleh makan sepuasnya, ada bagian yang tidak jelas. Yaitu ukuran makanan yang dikonsumsi pembeli. Dia bisa makan banyak, bisa makan sedikit. Lauk yang dimakan bisa banyak, juga bisa sedikit. Sehingga semua orang memahami, ada ketidak-jelasan di sana.

Bagaimana hukumnya?

Ada 2 pendapat dalam masalah ini,

Pertama, transaksi ini dilarang karena ada unsur jahalah (ketidak-jelasan).

Ini merupakan pendapat Syaikh Muhammad Mukhtar as-Syinqithi dalam jawaban yang beliau sampaikan ketika kajian Syarh Umdatul Fiqh. Beliau ditanya,

“Apa hukum menjual makanan, dengan cara makan sampai kenyang sementara bayarnya tetap.”

Jawaban yang beliau sampaikan,

الغذاء حتى الاشباع بيعٌ مجهول ، لأن الذي يشبع ليس له ضابط في الناس محدد ، وهذا البيع الذي تدل عليه نصوص الكتاب والسُّنة أنه محرم ، لايجوز لأنه لايصح أن تشتري شيئاً إلا إذا كان معلوماً ، معلوم الصفة ، معلوم القدر

Makan sampai kenyang, termasuk jual beli majhul (tidak jelas). Karena istilah ‘kenyang’ pada manusia tidak memiliki batasan. Dan jual beli ini dilarang berdasarkan keterangan dari al-Quran dan sunah. Tidak boleh, karena tidak sah membeli sesuatu kecuali semuanya jelas, jelas kriterianya, dan jelas ukurannya.

Dan pendapat ini juga yang diisyaratkan oleh Syaikh Dr. Fauzan. Beliau mengatakan,

أنني سئلت عن ظاهرة في بعض المطاعم وهي أن أصحابها يقولون للزبائن: كل ما تشاء من هذه المأكولات المعروضة وادفع مبلغاً مقطوعاً محدداً، فقلت: هذا مجهول والمجهول لا يجوز بيعه حتى يحدد ويعرف

Saya ditanya tentang kasus di sebagian restoran, dimana pemiliknya mengatakan kepada pengunjung, “Silahkan makan apapun yang telah dihidangkan, dan bayar uang sekian. Saya sampaikan, ‘Ini transaksi majhul (tidak jelas) dan sesuatu yang tidak jelas, tidak boleh dijual sampai ditegaskan batasannya.”

Kedua, transaksi ini dibolehkan. Ini merupakan pendapat Imam Ibnu Utsaimin dan Dr. Muhammad Said al-Buthi.

Imam Ibnu Utsaimin ditanya tentag hukum warung yang menjual makanan,

‘Bayar 20 real dan makan sampai kenyang.’ Jawaban beliau,

الظاهر أن هذا يتسامح فيه ؛ لأن الوجبة معروفة ، وهذا مما تتسامح فيه العادة ، ولكن لو عرف الإنسان من نفسه أنه أكول فيجب أن يشترط على صاحب المطعم ؛ لأن الناس يختلفون

Yang dzahir semacam ini dibolehkan. Karena ukuran yang dihidangkan jelas, dan ini dibolehkan sesuai adat. Namun jika orang merasa bahwa dirinya banyak makan, dia harus menyatakannya ke pemilik warung. Karena manusia beda-beda. (as-Syarh al-Mumthi’, 4/322)

Memilih Pendapat yang Mendekati

Para ulama membolehkan melakukan transaksi gharar yang ringan. Berikut beberapa keterangan mereka,

[1] Keterangan Ibnu Rusyd – rahimahullah –,

الفقهاء متفقون على أن الغرر الكثير في المبيعات لا يجوز ، وأن القليل يجوز

Para ulama sepakat bahwa gharar yang banyak dalam transaksi, tidak dibolehkan. Sementara gharar yang sedikit, boleh.

[2] Keterangan al-Qarrafi

Beliau menyebutkan,

الغرر والجهالة – أي في البيع – ثلاثة أقسام : كثير ممتنع إجماعا، كالطير في الهواء، وقليل جائز إجماعا ، كأساس الدار وقطن الجبة، ومتوسط اختلف فيه، هل يلحق بالأول أم بالثاني؟

Gharar dan jahalah – dalam jual beli – ada 3 macam:

[1] Gharar banyak, hukumnya terlarang dengan sepakat ulama. Seperti: burung yang ada di udara.

[2] Gharar sedikit, hukumnya boleh dengan sepakat ulama. Seperti: pondasi rumah dan jenis kapas kain jubah

[3] Gharar pertengahan, hukumna diperselisihkan ulama. Apakah dimasukan yang pertama atau kedua.

(al-Furuq, 3/265)

[3] Keterangan dalam Ensiklopedi Fiqh

يشترط في الغرر حتى يكون مؤثراً أن يكون كثيرا , أما إذا كان الغرر يسيرا فإنه لا تأثير له على العقد

Diantara syarat gharar yang haram adalah berpengaruh dalam akad dan ukurannya besar. Namun jika ghararnya ringan, tidak ada pengaruh dalam akad. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 31/151)

Contoh bentuk gharar ringan, seperti yang disampaikan Ibnul Qoyim,

غرر يسير يُغتفر في جنب المصلحة العامة التي لا بد للناس منها، فإن ذلك غرر لا يكون موجباً للمنع، فإن إجارة الحيوان والدار والحانوت مساناة لا تخلُو عن غرر، لأنه يعرض فيه موتُ الحيوان، وانهدام الدار، وكذا دخولُ الحمام

Gharar yang sedikit ditoleransi dalam rangka mewujudkan kemaslahatan umum, yang harus ada dalam kehidupan manusia. gharar semacam ini tidak boleh menjadi sebab terlarangnya transaksi. karena menyewakan binatang atau rumah atau ruko yang terbuka, tidak bisa lepas dari gharar. Karena bisa saja binatang itu mati atau rumah itu roboh. Demikian pula masuk ke pemandian… (Zadul Ma’ad, 5/820)

Orang yang hendak masuk pemandian, dia membayar biaya masuk, lalu masuk. Dan dia tidak tahu berapa jumlah air yang akan dia gunakan, berapa sabun yang akan dia habiskan, berapa lama dia berdiam di dalam. Dan ini semua adalah gharar ringan yang ditoleransi.

Namuan melalui kebiasaannya manusia bisa memahami bahwa kira-kira yang akan dihabiskan oleh konsumen adalah antara sekian sampai sekian. Dan mereka bisa mentoleransi untuk selisih kuantitas di rentang itu.

Dalam kasus warung, bayar sekian, silahkan makan sepuasnya, pemilik warung maupun konsumen bisa memahami di rentang berapa kuantitas makanan yang akan dikonsumsi untuk sekali kunjungan. Misalnya, untuk nasi antara 1 – 3 ons/orang, lauk antara 2 – 5 ons/orang dst. dan mereka bisa mentoleransi untuk selisih kuantitas di rentang itu. Dan itulah gharar ringan yang dibolehkan.

Karena itulah, pendapat yang lebih mendekati adalah pendapat yang membolehkan. Hanya saja, bagi mereka yang kuantitas makannya tidak normal, melebihi dari umumnya masyarakat, maka dia harus sebutkan di awal, agar tidak merugikan salah satu pihak.

Termasuk dalam kajian ini, seperti yang terjadi di Lounge di Bandara. Penumpang masuk dengan membayar 100rb misalnya, dengan layanan diuruskan check in, bagasi dan makan sepuasanya. Ada ketidak-jelasan untuk ukuran makanan yang dikonsumsi penumpang. Meskipun ketidak-jelasan (gharar) dalam hal ini terhitung sedikit.

Manfaat Madu Hitam Untuk Kecantikan

Meskipun rasanya pahit, namun madu hitam memiliki banyak manfaat untuk kesehatan tubuh. Selain itu, madu hitam (pahit) bermanfaat bagi kecantikan, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Menghilangkan flek hitam pada kulit wajah

Madu Pahit bisa digunakan sebagai masker wajah untuk menghilangkan flek hitam pada kulit wajah, manfaat madu untuk wajah ini diantaranya untuk meminimalisir flek hitam pada kulit wajah, flek hitam sendiri biasanya muncul baik pada wanita maupun laki-laki namun lebih dominan terjadi pada wanita.

Flek hitam muncul seiringnya usia, semakin dewasa kolagen pada kulit wajah menumpuk dan menjadi flek, bisa juga diakibatkan stress, bisa juga diakibatkan makanan yang dikonsumsi.

2. Mengencangkan kulit wajah

Madu Pahit dimaskerkan untuk mengencangkan kulit wajah. Biasanya usia lebih lanjut akan menjadikan kulit pada wajah kendur dan terlihatlah kerutan-kerutan pada wajah yang membuat tampak lebih tua dalam berpenampilan.

Untuk mengatasi hal ini madu pahit bisa digunakan sebagai masker wajah, biasanya dimaskerkan atau diratakan di wajah tipis-tipis dan diamkan selama 15-30 menit hingga lapisan madu mengering, lalu bilaslah dengan air hangat.

Saran untuk membilas, apabila pemaskeran dilakukan pada malam hari, maka air yang digunakan untuk membilas baiknya air hangat sehingga pori-pori kulit terakhir berada dalam kondisi terbuka untuk bernapas.

Sedangkan apabila menggunakan madu pahit dimaskerkan di pagi atau siang hari baiknya menggunakan air dingin biasa atau air es, sehingga pori-pori kulit terakhir dalam kondisi mengerut atau tertutup, penggunaan secara rutin akan mengurangi kerutan-kerutan di kulit wajah sehingga tampak lebih fresh dan lebih muda.

4. Mengusir jerawat

Madu Pahit untuk mengusir jerawat, Jerawat terkadang menganggu kepada seseorang dalam penampilan, walau tidak semua orang merasa terganggu dengan jerawat, tapi idealnya wajah kita harus terbebas dari namanya jerawat.

Apabila mendapati wajah berjerawat maka segera oleskan sedikit madu pahit ke permukaan kulit yang berjerawat tersebut, dan diamkan selama 30 menit hingga madu terasa meresap dan mematikan bakteri dan kuman pada jerawat.

Dilakukan secara rutin maka kulit wajah akan bersih dari jerawat. Dianjurkan selain untuk di oleskan madu diminum untuk membantu pembersihan dari dalam.

5. Membakar kalori dan melunturkan lemak

Madu Pahit diminum secara rutin akan membakar kalori dan melunturkan lemak, biasanya pada seseorang yang memiliki berat bada diatas ideal, dibawah permukaan kulitnya mengandung kelebihan lemak, sehingga nampak berlipat-lipat atau garis-garis yang sebenarnya adalah kandungan lemak dibawah kulit yang berlebihan. Apabila madu pahit dikonsumsi secara rutin maka akan berangsur-angsur menguranginya.

6. Penambah suplemen dan membantu program diet

Madu pahit mampu menjadi bahan penambah suplemen dan membantu program diet, minum madu pahit akan terasa mengenyangkan, bagi orang yang menginginkan turun berat badan biasanya madu pahit dikonsumsi secara rutin diwaktu jam makan, sehingga perut tidak terasa lapar dan mengurangi selera makan.

Walaupun melewati tanpa makan, tapi tubuh akan tetap segar dan berstamina. Bagi orang-orang yang memiliki perut buncit ini sangatlah cocok mengkonsumsi madu pahit untuk membantu program dietnya.

Kandungan Gizi:

Kandungan gizi Madu Hitam

  • Vitamin A
  •  Vitamin B1
  • Vitamin B2
  • Vitamin B3
  • Vitamin B5
  • Vitamin B6
  • Vitamin C
  • KALSIUM
  • KALIUM
  • ZAT BESI
  • ALANINE

Aturan Pakai:

Untuk Menjaga Kesehatan:
1 sendok makan 3 x sehari

Untuk Pengobatan:
2 – 3 sendok makan 3x sehari

Anjuran:

Ajuran minum madu raja yang benar agar memperoleh hasil yang maksimal:

  • Madu hitam sebaiknya diminum secara langsung (tanpa campuran apapun)
  • Setelah minum madu hitam sebaiknya jangan minum air putih agar mudah diserap  oleh tubuh dan madu raja cepat bereaksi (jika haus sebaiknya minum air putih sebelum minum madu raja)
  • Madu hitam cocok diminum kapan saja, tapi dianjurkan diminum sebelum makan pagi, sebelum makan siang dan sebelum tidur
  • Minumlah madu hitam secara rutin untuk menjaga kesehatan agar tetap bugar dan fit
  • Tetaplah berusaha dan berdoa dan jangan berputus asa

Bacalah doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil mengusap dengan tangan kanannya pada tubuh yang sakit :

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ وَاشْفِه وأَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَآءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

“ Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah kesusahan dan berilah dia kesembuhan, Engkau Zat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit lain” (HR Bukhari 535 dan Muslim 2191).

atau doa:

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ, مذْهِبِ الْبَأْس, اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَآءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

“ Ya Allah, Rabb manusia Yang Menghilangkan kesusahan, berilah kesembuhan, Engkaulah Zat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada yang mampu menyembuhkan kecuali Engkau, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit lain” (HR Bukhari 541).

Bolehkah Orang Kidal Makan Dengan Tangan Kiri?

Di antara adab yang diajarkan Islam adalah ketika kita hendak makan atau minum. Manusia, khususnya seorang muslim diwajibkan makan dengan menggunakan tangan kanan. Islam juga melarang makan atau minum dengan tangan kiri.

Namun seperti kita sering lihat sekarang, orang muslim banyak yang mempunyai kebiasaan buruk dalam hal makan dan minum. Di antara mereka ada yang melakukannya dengan berdiri dan menggunakan tangan kiri.

Ketahuilah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam biasa menggunakan tangan kanan untuk sebagian besar urusannya yang baik-baik. Sebagaimana hadits ‘Aisyah radhiallahu’anha:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ فِي شَأْنِهِ كُلِّهِ

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam membiasakan diri mendahulukan yang kanan dalam memakai sandal, menyisir, bersuci dan dalam setiap urusannya,” (HR. Bukhari 168).

Lalu bagaimana jika orang yang kidal? Apakah ada pengecualian baginya sehingga diperbolehkan makan dengan tangan kiri?

Dikutip dari Konsultasi Syariah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat marah, ketika ada orang yang makan dengan menggunakan tangan kiri; sebagaimana disebutkan dalam hadis Salamah bin Akwa’, Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat orang yang makan dengan tangan kiri. Beliau langsung mengingatkan,

كل بيمينك

Makanlah dengan tangan kananmu.”

Orang itu menjawab, “Aku tidak bisa.”

Asal Usul Kuliner Khas Islam

Peradaban Islam sebenarnya juga dapat dimaknai sebagai produk pertanian. Masyarakat nomaden yang tidak selalu dianggap “beradab” –yang mencari makan dengan cara berburu, mengumpul, atau menggembala–umumnya masih dianggap sebagai primitif.

Transisi dari berburu dan mengumpul, mengambil tempat perdana di Timur Tengah, di mana kekayaan rumput alam menyediakan bahan baku untuk pengolahan berbagai tanaman. Mundur ke periode zaman es terakhir, sekitar 10.000 SM, mendorong strategi baru untuk mengumpulkan makanan, dan dari waktu ke waktu. Orientasi konsumsi manusia pun berubah. Dari spesies liar menjadi butiran yang lebih berguna, seperti: barley, oat, dan gandum.

Melalui proses tak sadar, mereka memilih tanaman yang menguntungkan dan mendorong untuk bercocok tanam. Sejak 8000 SM, sumber makanan menjadi lebih diandalkan oleh gerombolan nomaden yang menetap ke desa-desa pertanian di Yerikho dan Çatal Huyuk (Turki). Sumber daya alam yang menguntungkan dari sungai Nil di Mesir dan sungai Tigris serta Efrat di Mesopotamia, menghasilkan surplus pertanian, memfasilitasi pengembangan pemukiman masyarakat, di mana akses terhadap makanan membantu untuk mendefinisikan “hierarki”.

Diferensiasi sosial di negara-negara kuno ini (sekitar 2000 SM) juga menyebabkan subordinasi atas perempuan. Hal ihwal ini menjadi ironis, mengingat peran penting dari kaum perempuan dalam aktivitas bercocok tanam.

Sebelum mendakwahkan Islam sekitar 610 M, Nabi Muhammad SAW memimpin sebuah kafilah unta yang melintasi semenanjung Arab. Dengan demikian, dia telah menjembatani antara gaya hidup nomaden gurun dan desa-desa pertanian yang menetap di oasis dan pantai. Islam dengan jenius telah mengemas tradisi yang beragam menjadi peradaban baru. Tentara muslim di bawah khalifah kedua, Umar bin Khattab (memerintah pada 634-644) menyerang dan menaklukkan sebagian besar dari Kerajaan Sasanid dan Bizantium, sehingga mewarisi budaya Persia dan Yunani.

Dalam satu abad, kekuasaan Islam meluas dari Spanyol ke Afrika Utara dan Timur Tengah, hingga India. Agama ini menawarkan akses ke bahan-bahan dan metode memasak dari tiga benua dan membangun dasar untuk sajian masakan yang membentang di seluruh jagat.

Pemerintah kekhalifahan mendorong perdagangan terpadu dan migrasi yang luas, memperkenalkan tanaman pangan Asia ke khalayak Barat. Tradisi Islam menghormati profesi pedagang. Oleh karena itu, para pedagang Arab segera mendominasi rute pelayaran di Samudera Hindia. Kisah Seribu Satu Malam menggambarkan banyaknya produk yang dijual di Baghdad seperti: “apel Suriah dan quince Turki, persik Oman, mentimun dari sungai Nil-Mesir, dan lemon sitrus Sultani.”

Karena pajak yang rendah, tenaga kerja budak, dan kesempatan untuk memiliki tanah pertanian, telah memikat para pedagang asal Persia dan India untuk bermigrasi ke Barat. Mereka membawa teknik irigasi yang canggih dan tanaman tropis Asia, termasuk beras, gula, gandum, jeruk, pisang, mangga, bayam, terong, dan sebagainya.

Beberapa tanaman asal Afrika, seperti semangka dan sorgum, bahkan membuat arah perjalanan berbundar dari pesisir Swahili ke India sebagai tempat persinggahan, sebelum kembali ke Afrika dan Eropa.

Saat melakukan ibadah haji ke Makkah, peziarah muslim asal Andalusia, Ibnu Jubair, mengisahkan ihwal semangka yang terasa “seperti gula-gula atau madu murni”. Lebih nikmat dari melon pahit yang tumbuh secara liar di Afrika.

Susu yang merupakan produk olahan dari para gembala badui, sedikit berubah sejak zaman pra-Islam, kontras dengan daging panggang mewah, padi, serta kombinasi manis dan gurih masakan ala Persia.

Juru masak asal Moor (Spanyol) melancong ke Palestina guna menyajikan makanan laut Mediterania yang segar. Sementara yang lain di Timur Tengah, hanya memiliki akses terbatas kepada ikan kering. Couscous, pasta kukus kecil yang terbuat dari sorgum dan gandum keras, kemudian menyebar perlahan-lahan dari Maroko dan mungkin tiba di Suriah dan Irak sekitar abad ketiga belas. Sebaliknya, manisan dari tebu dan kue-kue yang berbahan tebu tersedia di seluruh dunia Islam.

Hukum berpuasa bagi umat muslim, memberlakukan beberapa kesinambungan atas masakan regional yang beragam ini. Daging babi dilarang untuk muslim, membuat daging kambing menjadi pilihan favorit. Para penjagal kambing, baik Arab dan Yahudi, melakukan ritual penyembelihan hewan kurban. Alquran juga melarang alkohol, yang akhirnya digantikan oleh kopi.

Umat muslim berpuasa selama bulan suci Ramadhan. Meskipun menjadi fenomena umum dalam masyarakat, sikap ramah dan beramal memiliki akar yang sangat jauh di padang pasir Arab yang keras, dan kewajiban bagi setiap individu untuk mengeluarkan zakat bagi masyarakat miskin, menduduki peringkat keempat dalam rukun Islam.

Meskipun ajaran Islam memerintahkan untuk berbagi kepada kaum papa, namun faktanya para pejabat pengadilan kekhalifahan Abbasiyah (750-1258 M) secara rutin mengadakan perjamuan makanan mewah yang menantang etika kesetaraan dalam masyarakat muslim.

Pada abad kesembilan, kitab al-Bukhala mencela orang-orang Arab yang makan “makanan Persia, makanan dari Chosores, daging gandum rasa madu dan mentega murni ….Umar bin Khattab tidak akan setuju.” Referensi bagi kekhalifahan kedua ini menegur pengadilan Bagdad kontemporer, karena mental mereka telah dirusak oleh makanan serba Persia itu.BACA JUGA

Matematika dan Fisika dalam Kanvas Peradaban Islam

Takdir–di mana pun dalam literatur Arab, juga bisa menghukum mereka yang terganggu oleh makanan yang berlebihan. Ziarawan Maroko, Ibnu Battuta, secara sentimentil mengisahkan kepribadian tokoh sufi Jalaluddin Rumi yang tergoda oleh manisan yang ditawarkan oleh seorang penjaja makanan,

“Sang syekh meninggalkan pelajarannya untuk mengikutinya dan menghilang selama beberapa tahun. Kemudian, dia datang kembali, tapi dengan pikiran teratur, berwicara tentang apa pun, kecuali perihal syair-syair Persia yang tak bisa dimengerti.”

Para koki non-muslim juga mencari inspirasi untuk jamuan makan kosmopolitan khas para khalifah. Umat Kristiani abad pertengahan, tidak memiliki akses yang begitu luas ke resep ini, disebabkan oleh pendudukan pasukan Islam atas Spanyol pada periode perang Salib.

Di Sisilia (Italia) yang juga daerah taklukan muslim, makaroni yang terbuat dari gandum keras, telah muncul pada abad ketiga belas, dan dua ratus tahun kemudian, budidaya padi menyebar ke utara, di mana juru masak masih membuat bubur seperti risotto. Para ahli telah menelusuri hubungan antara penggunaan canggih atas rempah-rempah dalam buku resep masakan asal Arab dan karya Eropa Abad Pertengahan–meskipun resep serupa di Apicius membuat kita ragu akan bukti pengaruh langsungnya.

Koki asal Afrika juga mengenal bahan baru dan memanfaatkan teknik memasak itu. Meski difusi tanaman cenderung lari ke arah Barat, dengan keuntungan lebih sedikit untuk Asia, namun, Kesultanan Delhi (1206-1526) telah meninggalkan jejak masakan yang mendalam di India Utara. Resep muslim ini juga muncul di Cina dari Dinasti Lagu (960-1279), namun pengaruh mereka dibayangi oleh revolusi kuliner asli yang dihasilkan dari peningkatan produksi beras Indo-Cina dan munculnya ekonomi pasar.

Pada abad kedua belas, saat jumlah penduduk Cina telah melampaui angka 100 juta jiwa, Restoran Hangzhou membuat beragam masakan, mirip seperti yang ada di pengadilan Bagdad.

Arkian, dengan identitas mereka yang berakar kuat dalam ketaatan kepada Allah SWT, umat muslim membutuhkan beberapa stereotipe tentang makanan barbar untuk membedakan dirinya dari non-muslim. Para pedagang dan peziarah asal Arab, bepergian secara luas dan menyatakan rasa ingin tahunya perihal adat dan makanan dari orang-orang yang mereka temui. Toleransi mereka terhadap “orang-orang dari kitab,” termasuk Kristen, Yahudi, dan kemudian Hindu dan Buddha, juga membantu membuat masakan paling universal dalam persilangan budaya global di dunia.

Sunnah dalam Makan yang Sering Terlupakan

Islam mengajarkan setiap perkara dalam kehidupan manusia dari mulai perkara yang kecil hingga perkara besar, salah satunya adalah makan. Islam mengatur atau mengajarkan umatnya dalam perkara makan agar umatnya mendapatkan keselamatan dan kenikmatan ketika makan.

Dalam hadis Rasulullah Muhammad Saw. telah banyak dijelaskan bagaiamana adab atau etika ketika makan. Namun, di era zaman ini banyak sekali umat Islam yang melupakan atau meninggalkan sunah-sunah makan yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. Dari Amr bin ‘Auf RA, Nabi Muhammad Saw. bersabda ;

مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِى فَعَمِلَ بِهَا النَّاسُ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

Artinya : Siapa orang yang menghidupkan sunnahku, kemudian dikerjakan oleh umat manusia, maka orang tersebut akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang-orang yang mengerjakannya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. (HR. Ibnu  Majah)

Imam Abu Hamid bin Muhammad al-Ghazalli (w. 505 H) telah menghimpun berbagai sunah-sunah Nabi Muhammad SAW ketika makan. Sayangnya, saat ini sebagian kesunahan tersebut telah ditinggalkan oleh umat Islam.

Berikut kesunahan Nabi Muhammad ketika makan yang banyak dilupakan umatnya:

Pertama, meniatkan makan guna memperoleh kekuataan dan kemampuan untuk taat dan beribadah kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi Saw. bahwa setiap amalan tergantung pada apa yang diniatkannya.

Kedua, berwudhu sebelum dan sesudah makan. Nabi Muhammad Saw. bersabda “Berwudhu sebelum makan akan menghilangkan kemiskinan, dan berwudhu sesudahnya akan menghilanggakan gangguan setan.”

Ketiga, makan di atas tikar. Makan di atas tikar lebih mendekatkan pada kerendahan hati. Nabi Muhammad Saw. bersabda “Aku (ketika) makan tidak dalam keadaan bersandar, Aku (Nabi Muhammad Saw.) adalah seorang hamba, maka aku minum layaknya seorang hamba dan makan layaknya seorang hamba.”

Bukan berarti makan di atas meja dilarang oleh syari’at, hanya saja makan di atas tikar lebih menjauhkan seorang hamba dari sifat sombong. Atau dalam kata lain, kita dianjurkan untuk mengutamakan sopan dan santun saat makan.

Keempat, memperindah cara duduk ketika makan. Nabi Muhammad Saw. ketika makan posisi duduk Beliau Saw. ialah duduk di atas punggung kedua kakinya dan terkadang Beliau Saw. menegakkan kakinya sebelah kanan. Ketika Beliau Saw. hendak mengambil makanan Beliau berlutut.

Kelima, makan ketika terasa lapar dan berhenti makan sebelum kenyang. Kekenyangan dapat menyebabkan tubuh terasa berat dan rasa malas pun muncul. Dijelaskan pula oleh Imam Ghazalli bahwa terbiasa terlalu kenyang dapat menyebabkan hati menjadi keras. Disebutkan dalam hadis Nabi Muhammad SAW, “Paling jauhnya sesuatu dari (Rahmat) Allah ialah hati yang keras.”

Keenam, makan bersama-sama atau berjama’ah. Nabi Muhammad Saw. seumur hidupnya tidak pernah makan sendirian, Beliau Saw. pasti selalu mencari para sahabatnya. Makanan itu menjadi berkah jika banyak orang yang menyantapnya.

Ja’far Shaddiq bin Muhammad RA berkata, “Apabila kalian sedang duduk bersama saudara-saudara kalian untuk makan, maka berlama-lamalah dalam duduk tersebut, karena sesungguhya waktu kalian tidak akan dipertanyakan bagi kalian dari umur-umur kalian.”

Abdurrahman bin Sakhr RA (w. 59 H) berkata bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Siapa orang yang berpegang teguh dengan sunahku (Nabi Muhammad Saw.) ketika umatku dalam kerusakan, maka baginya pahala seratus orang syahid.” (HR. Al-Baihaqi (w. 457 H).

Hadis ini sebagai penyemangat untuk umat ini terus menghidupkan ajaran dan sunah-sunah Rasulullah SAW yang banyak sekali tinggalkan oleh Umat Islam.

Menghidupkan seluruh sunah Rasulullah SAW adalah cita-cita setiap pecinta Nabi Muhammad SAW walaupun dengan berbagai keterbatasan dan kelemahannya. Dengan sunah Nabi Muhammad SAW. seorang manusia dapat menggapai keselamatan dan kenikmatan hidup yang hakiki.

Apa Hukum Memakan Tulang di Dalam Islam

Disebutkan dalam hadis riwayat Muslim, bahwa para Jin datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta kepada beliau makanan yang halal. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada mereka:

لكم كل عظم ذكر اسم الله عليه يقع في أيديكم أوفر ما يكون لحما وكل بعرة علف لدوابكم

Makanan halal untuk kalian adalah semua tulang hewan yang disembelih dengan menyebut nama Allah. Ketika tulang itu kalian ambil, akan penuh dengan daging. Sementara kotoran binatang akan menjadi makanan bagi hewan kalian.” (HR. Muslim No.450)

Dalam riwayat lain, beliau bersabda:

لَا تَسْتَنْجُوا بِالرَّوْثِ، وَلَا بِالْعِظَامِ، فَإِنَّهُ زَادُ إِخْوَانِكُمْ مِنَ الْجِنِّ

Janganlah kalian beristinjak (bersuci setelah buang air) dengan kotoran dan tulang. Karena itu adalah makanan bagi saudara kalian dari kalangan jin.” (HR. Turmudzi 18, dan dishahihkan Al-Albani)

Dari dua hadis di atas dapat kita simpulkan bahwa tulang termasuk makanan jin. Namun apakah ini bisa dijadikan dalil yang mengatakan bahwa tulang haram dimakan manusia?

Jawaban Syaikh Abdurrahman As-Suhaim, salah seorang dai ahlus sunah di Kementrian Wakaf dan Urusan Islam, Riyadh, KSA.

Ketika beliau ditanya tentang hukum makan tulang, apakah haram? Beliau menjelaskan:

Allah berfirman:

قُلْ لا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi –karena sesungguhnya semua itu kotor- atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-An’am: 145)

Ditambah beberapa keterangan beberapa binatang haram yang disebutkan dalam hadis, seperti binatang buas yang bertaring, burung yang bercakar untuk menerkam musuh, atau khimar jinak, dan beberapa dalil lainnya.

Artinya, selain itu kembali kepada hukum asal, yaitu mubah. Karena hukum asal segala sesuatu adalah halal. Sementara tidak disebutkan keterangan tentang haramnya tulang.

Adapun statusnya sebagai makanan jin, tidaklah berpengaruh terhadap status hukum tulang. Karena ketetapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa tulang sebagai makanan jin, tidaklah menunjukkan larangan untuk memakannya. Dan tidak ada larangan untuk makan tulang.

Kemudian, orang yang meyakini haramnya tulang, dia wajib mendatangkan dalil. Karena jika tidak, maka dikhawatirkan dia dianggap berdusta atas nama syariah.

Ketika Allah menghalalkan sesuatu, maka hukum asalnya adalah halal semuanya, kecuali bagian yang membahayakan, karena alasan sisi bahayanya. Sehingga, ketika Allah halalkan binatang ternak, onta, sapi, atau kambing, berarti semua bagian dari hewan ini adalah halal, kecuali jika ada bagian yang haram.

Dalam kitab al-Mudawwanah dinyatakan,

مَا أُضِيفَ إلَى اللَّحْمِ مِنْ شَحْمٍ وَكَبِدٍ وَكَرِشٍ وَقَلْبٍ وَرِئَةٍ وَطِحَالٍ وَكُلًى وَحُلْقُومٍ وَخُصْيَةٍ وَكُرَاعٍ وَرَأْسٍ وَشِبْهِهِ ، فَلَهُ حُكْمُ اللَّحْمِ

Semua yang mengikuti status daging, seperti lemak, liver, kars (isi perut – usus dan sebangsanya), jantung, paru, limpa, ginjal, tenggorokan, skrontum, tengklek, kepala, dan semacamnya. Semuanya dihukumi sebagaimana hukum daging. (Tahdzib al-Mudawwanah, 3/87).

Sunnah untuk Makan Berjama’ah dalam Islam

Makan berjama’ah bukanlah ajaran sebagian kelompok dalam Islam. Namun makan seperti ini adalah makan yang disunnahkan dalam agama kita. Makan seperti ini dinilai lebih berkah, bahkan dikatakan bahwa sebenarnya satu porsi makanan itu bisa cukup untuk dua orang dan empat porsi untuk delapan orang.

Anjuran Makan Berjama’ah

Dalil yang menunjukkan anjuran makan secara berjama’ah adalah di antaranya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Makanan porsi dua orang sebenarnya cukup untuk tiga, makanan tiga cukup untuk empat.” (HR. Bukhari no. 5392 dan Muslim no. 2059, dari Abu Hurairah). Dalam lafazh Muslim disebutkan,

طَعَامُ الاِثْنَيْنِ كَافِى الثَّلاَثَةِ ، وَطَعَامُ الثَّلاَثَةِ كَافِى الأَرْبَعَةِ

طَعَامُ الْوَاحِدِ يَكْفِى الاِثْنَيْنِ وَطَعَامُ الاِثْنَيْنِ يَكْفِى الأَرْبَعَةَ وَطَعَامُ الأَرْبَعَةِ يَكْفِى الثَّمَانِيَةَ

Makanan porsi satu orang sebenarnya cukup untuk dua, makanan dua sebenarnya cukup untuk empat, dan makanan empat sebenarnya cukup untuk delapan.”

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (9: 535) berkata, “Kecukupan itu datang karena keberkahan dari makan secara berjama’ah. Cara jama’ah ini membuat yang menikmati makanan itu banyak sehingga bertambah pula keberkahan.”

Semakin Berkah

Dalil lain yang menunjukkan makan berjama’ah akan mendatangkan keberkahan adalah riwayat dari Wahsyi bin Harb dari ayahnya dari kakeknya bahwa para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَأْكُلُ وَلاَ نَشْبَعُ. قَالَ « فَلَعَلَّكُمْ تَفْتَرِقُونَ ». قَالُوا نَعَمْ. قَالَ « فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ ». قَالَ أَبُو دَاوُدَ إِذَا كُنْتَ فِى وَلِيمَةٍ فَوُضِعَ الْعَشَاءُ فَلاَ تَأْكُلْ حَتَّى يَأْذَنَ لَكَ صَاحِبُ الدَّارِ.

Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan dan tidak merasa kenyang?” Beliau bersabda, “Kemungkinan kalian makan sendiri-sendiri.” Mereka menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Hendaklah kalian makan secara bersama-sama, dan sebutlah nama Allah, maka kalian akan diberi berkah padanya.” (HR. Abu Daud no. 3764. Kata Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini dho’if. Sedangkan Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Ibnu Baththol berkata, “Makan secara bersama-sama adalah salah satu sebab datangnya barokah ketika makan.” (Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 18: 121)

Rasul dan Sahabat Mencontohkan Makan Sambil Berjama’ah

Dalil yang menunjukkan bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam makan secara berjama’ah disebutkan oleh ‘Aisyah, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- يَأْكُلُ طَعَامًا فِى سِتَّةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَجَاءَ أَعْرَابِىٌّ فَأَكَلَهُ بِلُقْمَتَيْنِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah makan bersama enam orang sahabatnya, lantas Arab Badui datang lalu memakan makanan beliau dengan dua suapan.” (HR. Tirmidzi no. 1858, Abu Daud no. 3767, Ibnu Majah no. 3264. Sanad hadits ini shahih kata Al Hafizh Abu Thohir).

Juga kita dapat lihat praktek sahabat mengenai makan secara berjama’ah. Dari Nafi’, ia berkata bahwa dahulu Ibnu ‘Umar tidak makan kecuali setelah didatangkan orang miskin dan beliau makan bersamanya. Kemudian Nafi’ pernah memasukkan seseorang untuk makan bersama Ibnu ‘Umar, lalu orang tersebut makan banyak. Ibnu ‘Umar pun berkata, “Wahai Nafi’, jangan masukkan orang ini untuk makan bersamaku, karena aku pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ يَأْكُلُ فِى مِعًى وَاحِدٍ وَالْكَافِرُ يَأْكُلُ فِى سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ

Seorang mukmin makan untuk satu usus, namun orang kafir untuk tujuh usus.” (HR. Bukhari no. 5393 dan Muslim no. 2060)

Sebagaimana disebutkan dalam Syarh Muslim, ada ulama yang menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah seorang mukmin biasa makan bersifat pertengahan. Imam Nawawi rahimahullah juga berkata bahwa para ulama mengatakan tentang maksud hadits yaitu untuk memiliki sedikit dunia, motivasi untuk zuhud dan qona’ah (hidup berkecukupan). Dan memang sedikit makan adalah bagian dari baiknya akhlak seseorang, sedangkan banyak makan itu kebalikannya.

Adapun perkataan Ibnu ‘Umar dalam hadits di atas tentang si miskin yang makan bersamanya dengan lahapnya, lantas beliau ucapkan pada Nafi’, “Jangan masukkan orang ini untuk makan bersamaku lagi”. Dikatakan seperti itu karena si miskin tersebut menyerupai (tasyabbuh pada) orang kafir. Siapa saja yang menyerupai orang kafir, maka dimakruhkan bergaul dengannya tanpa ada hajat atau bukan keadaan darurat. Lihat Syarh Shahih Muslim karya Imam Nawawi, 14: 25-26.

Hadits ini juga menjadi anjuran makan berjama’ah (bersama-sama dengan muslim lainnya) apalagi bersama orang miskin. Apalagi kita tahu bahwa Ibnu ‘Umar itu sangat bersemangat sekali melaksanakan ajaran Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.