Bolehkah Meniup Makanan dalam Islam?

Islam mengatur segala aspek kehidupan umatnya, termasuk tata cara makan dan adab makan. Salah satu kebiasaan yang sering dilakukan saat makan ialah meniup makanan / minuman yang dianggap terlalu panas. Lalu, bagaimana pandangan Islam terhadap hal ini?

Hadis dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Apabila kalian minum, janganlah bernafas di dalam gelas, dan ketika buang hajat, janganlah menyentuh kemaluan dengan tangan kanan… “(HR. Bukhari 153).

Dari hadist diatas, makna dari kata bernafas didalam gelas adalah sama dengan meniup minuman. Tentunya hal ini kuga berlaku dalam makanan. Dalam hal ini meniup makanan merupakan hal yang tidak diajarkan oleh Rosulullah SAW.

Hukum Meniup Makanan Dalam Islam

Meskipun secara tegas tidak terdapat hadist yang menyatakan larangan meniup makanan, tetapi secara garis besar baik makanan ataupun minuman merupaka  kenis yang sama. Yakni yang sama-sama dikonsumsi oleh manusia. Sehingga dalam hal ini, menhenai hadist yang berkaitan dengan minuma maka juga akan berlaku sama untuk makanan dan sebaliknya.

1. Larangan Meniup Makanan

Hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang bernafas di dalam gelas atau meniup isi gelas. (HR. Ahmad 1907, Turmudzi 1888, dan dishahihkan Syuaib Al-Arnauth).

Hadist diatas secara jelas menerangkan bahwa tidak diperkenankan meniup makanan atau minuman yang masih dalam kondiso panas. Filosofi yang dapat digunkan ialah bagaimana kita dapat melatih kesabaran lewat makanan.

Karena ternyata menunggu makanan menjadi dingin juga membutuhkan kesabaran yang lumayan. Sehingga tentunya larangan meniup makanan ini juga memiliki manfaat lain yakni dapat sekaligus melatih kesabaran.

2. Dapat Mengotori Makanan atau Minuman

Larangan meniup makanan juga didasari oleh kekhawatiran bahwa ketika kita meniup makanan akan menimbulkan kotoran di mukut berpindah ke makanan. Tentu saja hal ini dapat brrbahaya bagi kesehatan. Anda bisa bayangkan berapa banyak kuman yang ada di dalam mulut, kemudian saat kita meniup makanan maka tentu saja kuman dan bakteri tersebut dapat berpindah. Hal ini sesuai dengan hadist An-Nawawi dimana aia mengatakan,

Larangan bernafas di dalam gelas ketika minum termasuk adab. Karena dikhawatirkan akan mengotori air minum atau ada sesuatu yang jatuh dari mulut atau dari hidung atau semacamnya.“(Syarh Shahih Muslim, 3/160)

3. Menimbulkan Bau yang Bercampur

Selain kotor kekhawatiran lain yang tidak bisa di kesampingkan adalah timbulnya bau. Dalam hal ini, seorang yang memiliki bau mulut jika ia meniup makanan maka yang akan terjadi adalah baru makanan dan bau mulut menjadi bercampur.

Meniup minuman bisa menyebabkan air itu terkena bau yang tidak sedap dari mulup orang yang meniup. Sehingga membuat air itu menjijikkan untuk diminum. Terutama ketika terjadi bau mulut. Kesimpulannya, nafas orang yang meniup akan bercampur dengan minuman itu. Karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkan larangan bernafas di dalam gelas dengan meniup isi gelas.” (Zadul Ma’ad, 4/215).

Tentu saja hal ini sedikit menjijikkan dan alhasil dapat menghilangkan selera makan. Hal senada juga disampaikan Ibnul Qoyim dalam hadist berikut :

4. Lebih Berkah Makanan yang Telah Dingin

Larangan menyantap atau meniup makanan yang masih panas juga disampaikan dalam hadist berikut Dari Asma binti Abu Bakr,

sesungguhnya beliau jika beliau membuat roti tsarid wadahnya beliau ditutupi sampai panasnya hilang kemudian beliau mengatakan, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya makanan yang sudah tidak panas itu lebih besar berkahnya”. [HR Hakim no 7124].

Dalam hadist tersebut dijelaskan bahwa, Rasulullah sendiri menyatakan dengan tegas bahwa makanan yang sudah tidak panas memiliki berkah saat di konsumsi. Tentunya dengan menggunakan pedoman hadist ini, maka semakin menegaskan bahwa meniup makanan yang masih panas bukan merupakan ajaran Islam yang di anjurkan.

6. Nikmati Makanan Setelah Dingin

Pada poin sebelumnya telah dijelaskan bahwa makanan yang sudah tidak panas memiliki keberkahan didalamnya atau lebih berkah dibandingkan dengan makanan yang masih panas. Dalam sebuah hadist Albani mengatakan,

“Terdapat riwayat yang sahih dari Abu Hurairah, beliau mengatakan “Makanan itu belum boleh dinikmati sehingga asap panasnya hilang”. Diriwayatkan oleh al Baihaqi.

Artinya bahwa hadist diatas menegaskan anjuran untuk menyantap makanan apabila panasnya sudah hilang. Yang dimaksud dengan panas yang sudah hilang disini adalah hilang dengan sendirinya. Bukan karena ditiup menggunakan mulut atau menggunakan alat bantu seperti kipas. Bukankah lebih nyaman menyantap makanan yang telah dingin, dibandingkan menyantap makanan yang masih panas.

Maka telah jelas hukumnya, bahwa makanan maupun minuman, akan lebih baik tidak ditiup, untuk menghindari najis yang mungkin muncul akibat tiupan tersebut.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *