Tharid : Sop Ala Timur Tengah Kesukaan Nabi

Sama seperti tharid yang lebih sedap ketimbang semua masakan, begitu pula Fatimah yang lebih hebat dibandingkan semua perempuan.”

Kalimat dari Nabi Muhammad SAW itu pernah dikisahkan oleh al-Bukhari dan tercantum dalam Sahih al-Bukhari. Nabi memang sangat menggemari tharid. Bahkan dalam Medieval Cuisine of the Islamic World: A Concise History with 174 Recipes (2007), disebutkan bahwa tharid adalah hidangan paling favorit Nabi, yang ia umpamakan sama superiornya dengan Fatimah, putri kesayangannya.

Tharid adalah masakan kaldu dengan isian utama kacang chickepa, atau himmis dalam Bahasa Arab. Cara membuatnya gampang. Dalam Sugar in the Social Life of Medieval Islam (2014), resepnya ditulis sebagai berikut:

150 gram kacang chickepea direndam hingga mengembang. Lalu masukkan dua ayam yang sudah dipotong-potong, 9 gram biji jintan yang dibungkus kain bersih, serta garam, rebus. Bumbu lain adalah bawang bombay, potongan keju tajam (jubn). Setelah kaldu matang, taburkan lada hitam. Lalu masukkan 7 telur mentah, sehingga, “sup itu tampak seperti mata sapi (uyun al-baqar).” Kaldu kental itu kemudian disantap bersama roti semolina (khubz samidh) yang disiram dengan tambahan kaldu (maraq).

Masakan berbasis kaldu sudah berusia nyaris sama tua dengan peradaban manusia. Victoria R. Rumble dalam Soup Through the Ages (2009) menyebut bahwa sup adalah hidangan pertama yang benar-benar disiapkan oleh umat manusia. Sebelum itu, manusia zaman batu hanya memotong daging dan membakarnya.

Kaldu sudah ada sejak zaman batu. Bahkan saat itu belum ada panci atau kuali. Saat itu, kaldu dibuat dengan meletakkan air dalam kantung yang terbuat dari kulit hewan. Kemudian mereka membakar batu hingga merah menyala. Di kantung berisi air itu dicemplungkan aneka daging, tulang, lemak, rempah, juga bulir gandum liar. Tahap akhir: masukkan batu yang panas itu dalam kantung. Batu yang sudah dingin akan diganti dengan batu panas berikutnya. Tahapan itu terus diulang hingga air menjelma kaldu.

Sejarah kaldu kemudian memasuki babak baru ketika orang-orang Cina zaman dulu berhasil membuat kuali tanah liat pertama sekitar 22.000 tahun lalu. Kemudian panci dari perunggu dibuat sekitar 4.000 SM.

Kaldu jadi bahan dasar penting yang bisa menjelma jadi ribuan jenis masakan. Untuk sup, misalkan. Sup yang enak jelas terbuat dari kaldu yang dibuat dengan baik. Makanan ini kemudian jadi populer di seluruh dunia karena bahannya yang murah dan mudah dibuat.

Pada masa Romawi Kuno, sup adalah makanan andalan para fakir miskin dan tentara. Ketika bahan isian sudah habis, tinggal ditambahi sayuran lagi, lalu kembali direbus. Pembuatan sup lalu menyebar ke mana-mana, dengan segala versinya. Yang tak banyak disadari orang kala itu, sup adalah makanan yang amat bergizi.

“Tak ada makanan yang diterima secara universal ketimbang sup,” tulis Sally Fallon Morell dan Kaayla T. Daniel dalam Nourishing Broth: An Old-Fashion Remedy for the Modern World (2014).

Ada banyak jenis makanan kuah dengan basis kaldu. Di Jepang, dashi adalah jenis kaldu paling populer. Ia terbuat dari kombu (sejenis rumput laut yang dikeringkan) dan sisiran ikan tuna kering. Dashi ini yang kemudian menghasilkan umami alias gurih, rasa terakhir yang ditemukan umat manusia selain manis, asam, pahit, asin. Dashi menjadi dasar bagi banyak makanan Jepang. Mulai dari sup miso, takoyaki, okonomiyaki, udon, dan ramen.

Di Italia ada sup bernama minestrone, sup kental yang yang terbuat dari kaldu sayuran atau kaldu daging. Ada pula gazpacho, sup asal Spanyol yang terbuat dari kaldu sayuran dan disantap dingin.

Di Indonesia, jelas ada banyak makanan berbasis kaldu. Mulai dengan yang paling umum: soto. Dari satu jenis makanan itu, jenisnya bisa amat beragam. Mulai soto Betawi yang memakai kaldu daging sapi, hingga soto Banjar yang pakai kaldu ayam kampung. Lalu ada pula sop ayam. Bakso. Gulai. Tongseng. Tengkleng. Hingga kaldu kokot khas Sumenep yang mencampur kaldu daging (bisa sapi atau ayam), dengan kacang hijau.

Pada 1735, diciptakan kaldu kering dengan berbagai bentuk, dari tablet, butiran, hingga kotak. Ini mempermudah kerja membuat kaldu. Kehadiran MSG memungkinkan produksi kaldu bubuk skala industri. Maggi, perusahaan asal Swiss, adalah yang pertama memproduksi kaldu bubuk berbentuk kubus pada 1908. Langkah itu kemudian diikuti perusahaan Inggris, Oxo, membuat produk serupa pada 1910.

Tentu saja, kaldu yang dibuat dari nol lebih superior ketimbang kaldu bubuk buatan pabrik. Sally Fallon Morell, dalam prakata untuk Nourishing Broth, menyebut bahwa banyak merek kaldu kering sama sekali tak mengandung kaldu kering. Gantinya adalah bahan penyedap tambahan. Mulai bubuk bawang bombay, sodium bicarbonate, hingga MSG.

Namun tak bisa dipungkiri bahwa kehadiran kaldu bubuk membuat mudah hidup banyak orang. Seorang mahasiswa kos yang sedang demam, tak perlu repot-repot membuat kaldu dari daging atau tulang. Cukup memotong sayur, merebus air, dan menambahkan kaldu bubuk. Semangkuk sup bisa hadir dengan lekas.

Tak perlu khawatir, masih banyak masakan Indonesia yang dibuat dengan kaldu sebenar-benarnya. Mulai bakso hingga soto, dari skala buatan Ibu terkasih, warung, hingga restoran. Menyitir perkataan Nabi Muhammad SAW, makanan yang dibuat dengan kaldu dari nol jelas lebih sedap ketimbang yang memakai kaldu bubuk pabrikan.

Buah Delima dalam Al-Quran

Rasulullah SAW memuji delima sebagai penyembuh bagi tubuh. Dalam surah al-An’am ayat ke-99, Allah menyebut buah delima, setelah zaitun, anggur, dan kurma, dan berpesan bahwa “Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman.” Demikian pula pada surah al-An’am ayat 141. 

Bahkan, dalam surah ar-Rahman ayat 68, Allah mengungkapkan bahwa delima adalah salah satu dari buah-buahan di surga. “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” begitu bunyi peringatan Allah berkali-kali dalam surah yang teramat indah itu.

Sejak ribuan tahun lalu, manusia sudah menikmati delima baik sebagai makanan maupun obat. Buah ini diperkirakan berasal dari Asia Barat dan menyebar ke wilayah sekitar.

Hebron yang kini menjadi bagian dari Israel masyhur dengan delima yang sudah ditanam sejak zaman Nabi Musa. Mesir, Yunani kuno, dan Romawi adalah peradaban yang dikenal memanen buah ini.

Sejumlah temuan arkeologis menemukan sisa tanaman delima, seperti biji dan kulitnya di sekitar Siprus, Israel, Irak, Yordania, Lebanon, Palestina, Suriah, dan Turki. Benda itu diperkirakan sudah ada sejak 3.000 tahun sebelum masehi (DT Potts: 2012).

Masih di daerah yang sama, penelitian arkeologis juga menemukan artefak buah delima yang diperkirakan menjadi bagian Kuil Sulaiman. Pilar Kuil itu juga digambarkan berhias buah delima pada bagian atasnya.

Masyarakat Hyksos di daerah Tell el-Dab’a sekitar sungai Nil Mesir juga mengembangkan tanaman delima. Setelah memanennya, mereka menjual hasil bumi ini ke pasar dalam negeri.

Sebagian lainnya diekspor ke wilayah lain melalui perairan. Penjualan ini meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat, sekaligus menjadikan area tadi terkenal dengan hasil pertanian yang subur.

Buah ini digambarkan dalam hieroglif dinding kuburan Fir’aun, seperti Thutmosis. Delima menjadi buah primadona masyarakat Mesir. Pohonnya menjadi hiasan pekarangan mereka pada 1.600 sebelum masehi. Buahnya menjadi santapan bangsawan istana yang hidup penuh kenikmatan.

Romawi juga menanam dan memanen tanaman ini. Dahannya menjadi hiasan kepala pengantin wanita sebagai simbol kesuburan dan menunjukkan status pernikahan. Zoroaster juga menggunakan delima sebagai simbol kehidupan sesudah mati.

Pasukan Sparta yang dipimpin Xerxes (511-465 SM) digambarkan membawa tombak dan delima ketika menginvasi Yunani pada 480 sebelum masehi.

Mereka adalah tentara yang ditakuti di zamannya. Meski berjumlah terbatas, pasukan Xerxes tangguh dan mampu menghadapi militer Persia yang berhasil menjajah banyak kawasan.

Buah ini juga disebutkan dalam mitologi Yunani dan digambarkan dalam sejumlah karya seniman Barat. Lukisan itu menampakkan Persephone memegang delima pemberian Hades.

Terkait penamaan, dapat ditelusuri dalam sejarah dengan memerhatikan terminologi ilmiahnya, Punica granatum. Punica merupakan istilah yang dipakai bangsa Romawi Kuno untuk menyebut penduduk Fenisia (bahasa Inggris: Phoenicia)di pesisir Afrika Utara. Fenisia memiliki ibu kota Kartago, kini wilayah negara Tunisia. Masyarakat Roma menyebut delima sebagai malum punicum, “apel Punic”, karena buah itu didatangkan dari sana. 

Dalam keilmuan taksonomi, genus punica terbilang istimewa karena hanya terdiri atas dua spesies, yakni protopunica dan delima. Protopunica adalah leluhur genus tersebut dan tergolong endemik karena hanya ditemukan di Pulau Saqatra, sekitar Yaman Selatan.

Adapun istilah granatum merupakan bentuk jamak dari kata bahasa Latin granum  yang artinya ‘biji-bijian’ (bahasa Inggris: grain). Ed Stover dan Eric W Mercuredalam artikelnya, “The Pomegranate: A New Look at the Fruit of Paradise”, mencontohkan, masyarakat Amerika Serikat sampai kini masih menyebut delima sebagai seedy apple, ‘apel yang berbiji banyak.’ 

Dalam bahasa Prancis, terjemahan delima adalah grenade, sehingga tidak beda daripada granat tangan (bahasa Inggris: grenade). Buah tersebut memang menyerupai bentuk granat.

Dalam bahasa Spanyol, delima adalah granada, yang mengingatkan kita pada salah satu pusat kosmopolitan di Andalusia, kota Granada. Di sanalah lokasi istana Alhambra, yang tercatat sebagai situs warisan dunia versi UNESCO. Penyebutan delima dalam bahasa Spanyol mungkin karena Granada sebagai sentra perniagaan dibanjiri pelbagai komoditas, termasuk buah tersebut.

Sebuah teori juga menyebut bahwa buah yang kaya serat ini berasal dari daerah Persia (Iran) ribuan tahun silam. Di sana, namanya lebih dikenal sebagai anar. Bangsa Iran telah membuat kebun-kebun delima setidak-tidaknya sejak 3.000 tahun SM. 

Menelaah Pola Makan Rasulullah SAW

“Selera makan dan minum Rasulullah saw. sangat halus. Baginda saw. sangat gemar makan daging tulang, daging leher, daging pinggang dan rusuk. Masakan istimewa orang Arab , sop dimakan bersama roti juga disukai. Madu, cuka, tembikai, timun, labu, mentega dan beras dimasak bersama kacang juga disukai. Nabi saw. juga menggemari memasukkan kurma bersama susu dan mentega. Baginda saw. tidak suka makanan pedas. Makanan manis adalah kegemaran Baginda saw.

Nabi saw. tidak makan makanan yang menyebabkan nafas berbau seperti bawang.Ketika minum ia tidak bersuara dan mengangkat gelas tiga kali dari bibirnya . Setiap kali gelas diangkat ia mengucapkan syukur kepada Allah. Selepas makan Nabi saw. akan membersihkan tangannya dengan membasuh. Baginda saw. menyukai orang -orang duduk bersamanya makan. Apabila dibuatkan sup Nabi saw menyuruh ditambahkan kuah supaya lebih ramai orang dapat merasainya.

Muslim dan Tarmidzi telah meriwayatkan dari An-Nu’man bin Basyir ra. dia berkata: Bukankah kamu sekarang mewah dari makan dan minum, apa saja yang kamu mau kamu mendapatkannya? Aku pernah melihat Nabi kamu Muhammad SAW hanya mendapat korma yang buruk saja untuk mengisi perutnya!
Dalam riwayat Muslim pula dari An-Nu’man bin Basyir ra. katanya, bahwa pada suatu ketika Umar ra. menyebut apa yang dinikmati manusia sekarang dari dunia! Maka dia berkata, aku pernah melihat Rasulullah SAW seharian menanggung lapar, karena tidak ada makanan, kemudian tidak ada yang didapatinya pula selain dari korma yang buruk saja untuk mengisi perutnya.

Suatu riwayat yang diberitakan oleh Abu Nu’aim, Khatib, Ibnu Asakir dan Ibnun-Najjar dari Abu Hurairah ra. dia berkata: Aku pernah datang kepada Rasulullah SAW ketika dia sedang bersembahyang duduk, maka aku pun bertanya kepadanya: Ya Rasulullah! Mengapa aku melihatmu bersembahyang duduk, apakah engkau sakit? jawab beliau: Aku lapar, wahai Abu Hurairah! Mendengar jawaban beliau itu, aku terus menangis sedih melihatkan keadaan beliau itu. Beliau merasa kasihan melihat aku menangis, lalu berkata: Wahai Abu Hurairah! jangan menangis, karena beratnya penghisaban nanti di hari kiamat tidak akan menimpa orang yang hidupnya lapar di dunia jika dia menjaga dirinya di kehidupan dunia. (Kanzul Ummal 4:41)

Ahmad meriwayatkan dari Aisyah ra. dia berkata: Sekali peristiwa keluarga Abu Bakar ra. (yakni ayahnya) mengirim (sop) kaki kambing kepada kami malam hari, lalu aku tidak makan, tetapi Nabi SAW memakannya – atau pun katanya, beliau yang tidak makan, tetapi Aisyah makan, lalu Aisyah ra. berkata kepada orang yang berbicara dengannya: Ini karena tidak punya lampu. Dalam riwayat Thabarani dengan tambahan ini: Lalu orang bertanya: Hai Ummul Mukminin! Apakah ketika itu ada lampu? Jawab Aisyah: Jika kami ada minyak ketika itu, tentu kami utamakan untuk dimakan.
(At-Targhib Wat-Tarhib 5:155; Kanzul Ummal 5:155)

Abu Ya’la memberitakan pula dari Abu Hurairah ra. katanya: Ada kalanya sampai berbulan-bulan berlalu, namun di rumah-rumah Rasulullah SAW tidak ada satu hari pun yang berlampu, dan dapurnya pun tidak berasap. Jika ada minyak dipakainya untuk dijadikan makanan. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:154; Majma’uz Zawatid 10:325)

Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula dari Urwah dari Aisyah ra. dia berkata: Demi Allah, hai anak saudaraku (Urwah anak Asma, saudara perempuan Aisyah), kami senantiasa memandang kepada anak bulan, bulan demi bulan, padahal di rumah-rumah Rasulullah SAW tidak pernah berasap. Berkata Urwah: Wahai bibiku, jadi apalah makanan kamu? Jawab Aisyah: Korma dan air sajalah, melainkan jika ada tetangga-tetangga Rasulullah SAW dari kaum Anshar yang membawakan buat kami makanan. Dan memanglah kadang-kadang mereka membawakan kami susu, maka kami minum susu itu sebagai makanan. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:155)

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Aisyah ra. katanya: sering kali kita duduk sampai empat puluh hari, sedang di rumah kami tidak pernah punya lampu atau dapur kami berasap. Maka orang yang mendengar bertanya: Jadi apa makanan kamu untuk hidup? Jawab Aisyah: Korma dan air saja, itu pun jika dapat. (Kanzul Ummal 4:38)

Tarmidzi memberitakan dari Masruq, katanya: Aku pernah datang menziarahi Aisyah ra. lalu dia minta dibawakan untukku makanan, kemudian dia mengeluh: Aku mengenangkan masa lamaku dahulu. Aku tidak pernah kenyang dan bila aku ingin menangis, aku menangis sepuas-puasnya! Tanya Masruq: Mengapa begitu, wahai Ummul Mukminin?! Aisyah menjawab: Aku teringat keadaan di mana Rasulullah SAW telah meninggalkan dunia ini! Demi Allah, tidak pernah beliau kenyang dari roti, atau daging dua kali sehari. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:148)

Dalam riwayat Ibnu Jarir lagi tersebut: Tidak pernah Rasulullah SAW kenyang dari roti gandum tiga hari berturut-turut sejak beliau datang di Madinah sehingga beliau meninggal dunia. Di lain lain versi: Tidak pernah kenyang keluarga Rasulullah SAW dari roti syair dua hari berturut-turut sehingga beliau wafat. Dalam versi lain lagi: Rasulullah SAW telah meninggal dunia, dan beliau tidak pernah kenyang dari korma dan air.(Kanzul Ummal 4:38)

Dalam riwayat lain yang dikeluarkan oleh Baihaqi telah berkata Aisyah ra.: Rasulullah SAW tidak pernah kenyang tiga hari berturut-turut, dan sebenarnya jika kita mau kita bisa kenyang, akan tetapi beliau selalu mengutamakan orang lain yang lapar dari dirinya sendiri. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:149)
Ibnu Abid-Dunia memberitakan dari Al-Hasan ra. secara mursal, katanya: Rasulullah SAW selalu membantu orang dengan tangannya sendiri, beliau menampal bajunya pun dengan tangannya sendiri, dan tidak pernah makan siang dan malam secara teratur selama tiga hari berturut-turut, sehingga beliau kembali ke rahmatullah. Bukhari meriwayatkan dari Anas ra. katanya: Tidak pernah Rasulullah SAW makan di atas piring, tidak pernah memakan roti yang halus hingga beliau meninggal dunia. Dalam riwayat lain: Tidak pernah melihat daging yang sedang dipanggang (maksudnya tidak pernah puas makan daging panggang). (At-Targhib Wat-Tarhib 5:153)

Tarmidzi memberitakan dari Ibnu Abbas ra. katanya: Rasulullah SAW sering tidur malam demi malam sedang keluarganya berbalik-balik di atas tempat tidur karena kelaparan, karena tidak makan malam. Dan makanan mereka biasanya dari roti syair yang kasar. Bukhari pula meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. katanya: Pernah Rasulullah SAW mendatangi suatu kaum yang sedang makan daging bakar, mereka mengajak beliau makan sama, tetapi beliau menolak dan tidak makan. Dan Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah SAW meninggal dunia, dan beliau belum pernah kenyang dari roti syair yang kasar keras itu. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:148 dan 151)

Pernah Fathimah binti Rasulullah SAW datang kepada Nabi SAW membawa sepotong roti syair yang kasar untuk dimakannya. Maka ujar beliau kepada Fathimah ra: Inilah makanan pertama yang dimakan ayahmu sejak tiga hari yang lalu! Dalam periwayatan Thabarani ada tambahan ini, yaitu: Maka Rasulullah SAW pun bertanya kepada Fathimah: Apa itu yang engkau bawa, wahai Fathimah?! Fathimah menjawab: Aku membakar roti tadi, dan rasanya tidak termakan roti itu, sehingga aku bawakan untukmu satu potong darinya agar engkau memakannya dulu! (Majma’uz Zawa’id 10:312)

Ibnu Majah dan Baihaqi meriwayatkan pula dari Abu Hurairah ra. katanya: Sekali peristiwa ada orang yang membawa makanan panas kepada Rasulullah SAW maka beliau pun memakannya. Selesai makan, beliau mengucapkan: Alhamdulillah! Inilah makanan panas yang pertama memasuki perutku sejak beberapa hari yang lalu. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:149)

Bukhari meriwayatkan dari Sahel bin Sa’ad ra. dia berkata: Tidak pernah Rasulullah SAW melihat roti yang halus dari sejak beliau dibangkitkan menjadi Utusan Allah hingga beliau meninggal dunia. Ada orang bertanya: Apakah tidak ada pada zaman Nabi SAW ayak yang dapat mengayak tepung? Jawabnya: Rasulullah SAW tidak pernah melihat ayak tepung dari sejak beliau diutus menjadi Rasul sehingga beliau wafat. Tanya orang itu lagi: Jadi, bagaimana kamu memakan roti syair yang tidak diayak terlebih dahulu? Jawabnya: Mula-mula kami menumbuk gandum itu, kemudian kami meniupnya sehingga keluar kulit-kulitnya, dan yang mana tinggal itulah yang kami campurkan dengan air, lalu kami mengulinya. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:153)

Tarmidzi memberitakan daiipada Abu Talhah ra. katanya: Sekali peristiwa kami datang mengadukan kelaparan kepada Rasulullah SAW lalu kami mengangkat kain kami, di mana padanya terikat batu demi batu pada perut kami. Maka Rasulullah SAW pun mengangkat kainnya, lalu kami lihat pada perutnya terikat dua batu demi dua batu. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:156)

Ibnu Abid Dunia memberitakan dari Ibnu Bujair ra. dan dia ini dari para sahabat Nabi SAW Ibnu Bujair berkata: Pernah Nabi SAW merasa terlalu lapar pada suatu hari, lalu beliau mengambil batu dan diikatkannya pada perutnya. Kemudian beliau bersabda: Betapa banyak orang yang memilih makanan yang halus-halus di dunia ini kelak dia akan menjadi lapar dan telanjang di hari kiamat! Dan betapa banyak lagi orang yang memuliakan dirinya di sini, kelak dia akan dihinakan di akhirat. Dan betapa banyak orang yang menghinakan dirinya di sini, kelak dia akan dimuliakan di akhirat.’

Bukhari dan Ibnu Abid Dunia meriwayatkan dari Aisyah ra. dia berkata: Bala yang pertama-tama sekali berlaku kepada ummat ini sesudah kepergian Nabi SAW ialah kekenyangan perut! Sebab apabila sesuatu kaum kenyang perutnya, gemuk badannya, lalu akan lemahlah hatinya dan akan merajalelalah syahwatnya! (At-Targhib Wat-Tarhib 3:420).

Dari catatan diatas, bisa kita tambahkan lagi beberapa hal yang berkaitan dengan cara makan Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, sbb:

– JANGAN MAKAN BUAH SETELAH MAKAN NASI , SEBALIKNYA MAKANLAH BUAH TERLEBIH DAHULU, BARU MAKAN NASI.
– TIDUR 1 JAM SETELAH MAKAN TENGAH HARI.
– JANGAN SESEKALI TINGGAL MAKAN MALAM . BARANG SIAPA YG TINGGAL MAKAN MALAM DIA AKAN DIMAKAN USIA DAN KOLESTEROL DALAM BADAN AKAN BERGANDA.

Nampak memang sulit.. tapi, kalau tak percaya…cobalah Pengaruhnya tidak dalam jangka pendek. Akan berpengaruh bila kita sudah tua nanti.
– Dalam kitab juga melarang kita* makan makanan darat bercampur dengan makanan laut. *
Nabi pernah mencegah kita makan ikan bersama susu. karena akan cepat mendapat penyakit. Ini terbukti oleh ilmuwan yang menemukan bahwa dalam daging ayam mengandung ion+ sedangkan dalam ikan mengandung ion-, jika dalam makanan kita ayam bercampur dengan ikan maka akan terjadi reaksi biokimia yang akan dapat merusak usus kita.

– *Al-Quran Juga mengajarkan kita menjaga kesehatan spt membuat amalan antara lain: *
– *Mandi Pagi sebelum subuh, *sekurang kurangnya sejam sebelum matahari terbit. Air sejuk yang meresap kedalam badan dapat mengurangi penimbunan lemak. Kita boleh saksikan orang yang mandi pagi kebanyakan badan tak gemuk.

– Rasulullah mengamalkan *minum segelas air sejuk *(bukan air es) setiap pagi. Mujarabnya Insya Allah jauh dari penyakit (susah mendapat sakit).

– Waktu sholat subuh disunatkan kita bertafakur (yaitu *sujud sekurang kurangnya semenit *setelah membaca doa). Kita akan terhindar dari sakit kepala atau migrain. Ini terbukti oleh para ilmuwan yang membuat kajian kenapa dalam sehari perlu kita sujud. Ahli-ahli sains telah menemui beberapa milimeter ruang udara dalam saluran darah di kepala yg tidak dipenuhi darah. Dengan bersujud maka darah akan mengalir keruang tersebut.

– Nabi juga mengajar kita *makan dengan tangan* *dan *bila habis hendaklah *menjilat jari.*

Pandangan Islam Tentang Memakan Jangkrik

Jangkrik merupakan salah satu jenis serangga. Hewan ini biasanya hidup di berbagai tempat yang basah dan dingin. Jangkrik dapat kita temukan lewat suara khas yang keluar dari hewan tersebut, terutama pada saat malam hari.

Selain berguna sebagai salah satu pakan dari burung, jangkrik rupanya sudah mulai dikenal oleh sebagian masyarakat sebagai makanan yang juga dikonsumsi orang, baik dalam bentuk jangkrik goreng, keripik, atau sejenisnya.  Sebelum hal ini merambah semakin luas, alangkah baiknya jika kita mengetahui tentang status kehalalan atau keharaman dari hewan ini.
Di antara jenis hewan yang diharamkan oleh syariat adalah segala jenis hewan yang dipandang menjijikkan oleh orang Arab, termasuk dari bagian hewan ini adalah segala jenis hasyarat yaitu hewan-hewan kecil yang melata di tanah, seperti tikus, kumbang, ular dan hewan-hewan lainnya. Selain haram mengonsumsi hewan hasyarat, menjual-belikan hewan ini juga diharamkan dan dihukumi tidak sah. Seperti yang dijelaskan dalam kitab Nihayah al-Muhtaj:
ـ (فلا يصح بيع الحشرات) وهى صغار دواب الأرض كفأرة وخنفساء وحية وعقرب ونمل
“Tidak sah menjual hewan-hewan hasyarat yakni hewan-hewan kecil yang melata di tanah seperti tikus, kumbang, ular, kalajengking dan lebah” (Syekh SyamsuddinMuhammad  bin Abi al-Abbas bin Syihabuddin ar-Ramli, Nihayah al-Muhtaj, juz IV, hal. 395)
Hewan jangkrik tanpa diragukan lagi termasuk dalam kategori hewan hasyarat ini, sehingga hukum mengonsumsi jangkrik adalah haram, sebab dipandang sebagai hewan yang menjijikkan menurut orang Arab, hal ini seperti yang ditegaskan dalam kitab Hayat al-Hayawan al-Kubra:
الصرصر – حيوان فيه شبه من الجراد ، قفاز يصيح صياحاً رقيقاً ، وأكثر صياحه بالليل ولذلك سمي صرار الليل ، وهو نوع من بنات وردان عري عن الأجنحة . وقيل : إنه الجدجد وقد تقدم أن الجوهري فسر الجدجد بصرار الليل ، ولا يعرف مكانه إلا بتتبع صوته ، وأمكنته المواضع الندية ، وألوانه مختلفة فمنه ما هو أسود ، ومنه ما هو أزرق ومنه ما هو أحمر ، وهو جندب الصحارى والفلوات وحكمه : تحريم الأكل لاستقذاره 
Sharshar (jangkrik) adalah hewan yang menyerupai belalang, terkadang hewan tersebut bersuara dengan suara yang lirih. Seringkali hewan ini bersuara pada saat malam hari, karena hal tersebut maka hewan ini juga disebut dengan shurrarul laili. Hewan ini merupakan bagian dari jenis bintu wardan yang tidak memiliki sayap (yang bisa terbang). Hewan ini juga disebut judjud, seperti halnya yang dijelaskan pada pembahasan yang telah lalu bahwa Syekh al-Jauhari mengartikan judjud dengan hewan jangkrik. Keberadaan jangkrik tidak akan dapat diketahui kecuali dengan meneliti dari suaranya, hewan ini menyukai tempat-tempat yang basah. Warnanya berbeda-beda, ada yang berwarna hitam, biru dan merah. Hewan ini hampir sama dengan belalang yang sering ditemukan di hutan belantara. Hukum mengonsumsi hewan ini adalah haram karena dianggap hewan yang menjijikkan.” (Syekh Kamaluddin ad-Damiri, Hayat al-Hayawan al-Kubra, juz 2, hal. 86)
Yang menjadi pijakan tentang menjijikkan atau tidaknya suatu hewan adalah menurut cara pandang orang Arab. Jika terdapat sebagian orang yang menganggap bahwa hewan jangkrik bukanlah hewan yang menjijikkan untuk dimakan, hal tersebut sama sekali tidak dapat mengubah terhadap keharaman jangkrik yang berpijak pada cara pandang orang Arab secara umum. Dalam kitab-kitab fiqih, orang Arab menjadi standar menjijikkan atau tidaknya suatu hewan, sebab kepada merekalah yang pertama kali menjadi khitab wahyu (sasaran dakwah Islam masa awal). Wallahu a’lam.

Anjuran Makan Buah Sebelum Makan Utama

Mungkin telah tersebar informasi adanya anjuran makan buah sebelum makan utama. Dan ini dinisbatkan kepada Islam atau ini adalah anjuran agama Islam. Ternyata ini bukan HOAX dan ada beberapa ulama yang berpendapat demikian,di antaranya Imam An-Nawawi rahimahullah.

Memang benar secara kesehatan dianjurkan makan buah sebelum makan besar, karena lebih memudahkan penyerapan buah dan gizi yang terkandung di dalamnya dan tidak bersaing dengan penyerapan makanan utama serta bisa juga meningkatkan kadar glukosa darah. Akan tetapi ini efektif jika makan buah 30 menit sampai 2 jam sebelum makan atau 1-2 jam setelah makan.

Jika makan buah dulu,  baru tidak berselang lama, langsung makan besar tanpa jarak waktu minimal 30 menit. Maka ini sama saja dengan makan buah setelah makan, buah akan bersaing penyerapannya dengan makanan utama. Akan tetapi ada juga yang mengatakan, walaupun tidak 30 menit, minimal pencernaannya lebih utama buah dan lebih maksimal.

Terlepas dari pembahasan dari segi kesehatan, tetap saja kita harus menghormati saudara kita yang berpegang dengan pendapat ulama bahwa di antara adab makan adalah mendahulukan buah baru makan besar/pokok.

Berikut pembahasannya

Dalil makan buah sebelum makan

Di antara dalilnya adalah surat Al-Waqiah. Allah Ta’ala berfirman,

وَفَاكِهَةٍ مِمَّا يَتَخَيَّرُونَ (20) وَلَحْمِ طَيْرٍ مِمَّا يَشْتَهُونَ

Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan”. (Al Waqi’ah 20-21)
di antara ulama ada yang berdalil bahwa Allah menyebut buah dahulu baru daging sebagai dalil anjuran dalam islam, makan buah dahulu baru makanan pokok

Al-Gazali rahimahullah berkata,

ويستحب تقديم الفاكهة إن كانت فذلك أوفق في الطب، فإنها أسرع استحالة فينبغي أن تقع في أسفل المعدة وفي القرآن الكريم تنبيه على تقديم الفاكهة في قوله تعالى: وَفَاكِهَةٍ مِمَّا يَتَخَيَّرُونَ ثم قال: وَلَحْمِ طَيْرٍ مِمَّا يَشْتَهُونَ.

“Dianjurkan mendahulukan makan buah jika karena sesuai dengan ilmu kedokteran yaitu lebih cepat dicerna maka lebih baik buah lebih bawah (dalam perut) daripada hidangan (makanan pokok). Dalam Al-Quran ada peringatan untuk mendahulukan makan buah yaitu dalam firman Allah,”Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan”.

Akan tetapi ada ulama yang TIDAK SETUJU dengan pendalilan seperti ini akan tetapi membenarkan bahwa adab makan mendahulukan buah dari makanan utama.

Syaikh Shalih Al-Munajjid hafidzahullah berkata,

يعني أن تقديم الفاكهة قبل الطعام أحسن؛ لأنه أسرع لهضمها، وبعضهم يستند بقوله تعالى: في ضيافة أهل الجنة أو طعام أهل الجنة: وَفَاكِهَةٍ مِمَّا يَتَخَيَّرُونَ * وَلَحْمِ طَيْرٍ مِمَّا يَشْتَهُونَ [الواقعة:20-21] فقدم الفاكهة على الطعام، لكن هذا لا يستلزم أن يكون دليلاً، فمجرد ذكره معطوفاً عليه لا يكون دليلاً على تقديم الفاكهة، ثم إن الوضع في الجنة قد يختلف عن الدنيا.. على أية حال سواء قدموا الفاكهة قبل الأكل أو بعده فالأمر واسع

“Yaitu mendahulukan buah daripada makanan utama lebih baik karena lebih cepat dicerna. Sebagian (ulama) berdalil dengan firman Allah pada jamuan penduduksurga dan mereka mendahulukan buah dari makanan utama.

Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan

Akan tetapi ini tidaklah menjadi dalil, semata-mata menyebut sebagai ma’tuf (urutan) tidaklah menjadi dalil untuk mendahulukan buah. Kemudian (yang menjadi alasan juga) keadaan di surga berbeda dengan di dunia, sama saja mendahulukan buah sebelum makan atau makan sesudahnya, maka perkaranya lapang.”

Akan tetapi ada dalil yang lainya sebagaimna disebutkan oleh Imam AN-Nawawi rahimahullah,

وقد ذكر النووي عند شرح حديث أبي الهيثم بن التيهان لما أتاه النبي صلى الله عليه وسلم وأبو بكر وعمر فجاءهم بعذق فيه بسر وتمر ورطب، فقال: كلوا من هذه، ثم أخذ المدية وانطلق ليذبح لهم.

ذكر النووي في شرحه أن فيه دليلا على استحباب تقديم الفاكهة على الخبز واللحم وغيرهما.

“Imam An-nawawi telah menyebutkan ketika menjelaskan hadits Abi Al-Haitsam bin Thihan tatkala ia datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan ada Abu Bakar dan Umar. Ia membawa wadah yang berisi kurma basah dan kurma kering, kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkata,

‘makanlah ini (kurma), kemudian mengambil hidangan dan kemudian pergi

Imam AN-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini sebagai dalil dianjurkannya mendahulukan makan buah, baru kemudian roti, daging dan makanan pokok lainnya.

Demikian semoga kita bisa bijak menyikapi hal ini dan menghormati saudara kita yang mengambil pendapat ulama yang berdalil dengan hal ini.

Bolehkah Umat Islam Memakan Daging Mentah?

Syariat sejak awal telah menjelaskan secara gamblang mengenai beberapa hal yang berkaitan dengan halal-haramnya berbagai macam makanan: mana yang boleh dikonsumsi dan mana yang tidak boleh dikonsumsi. Mengenai halal-haramnya makanan ini salah satunya dijelaskan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala

قُلْ لا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّماً عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَماً مَسْفُوحاً أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقاً أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ 
“Katakanlah, ‘Tidak kudapati di dalam apa yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan memakannya bagi yang ingin memakannya, kecuali daging hewan yang mati (bangkai), darah yang mengalir, daging babi, karena semua itu kotor atau hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah,” (QS. Al-An’am: 145).
Berdasarkan dalil di atas dapat dipahami bahwa daging yang haram untuk dimakan adalah daging hewan bangkai, daging yang masih terdapat darah di dalamnya, daging babi dan daging yang disembelih untuk tujuan selain Allah. Sedangkan yang dimaksud dengan bangkai dalam ayat di atas adalah daging yang berasal dari hewan yang mati tanpa disembelih secara syara’ (Syekh Ibnu Qasim al-Ghazi, Fath al-Qarib al-Mujib, hal. 28).
Lantas bagaimana dengan mengonsumsi daging yang masih mentah? Seperti aneka masakan yang tersaji di restoran khas Jepang, misalnya; apakah tergolong sebagai hal yang diharamkan?
Mengonsumsi daging secara mentah adalah hal yang diperbolehkan selama daging yang dikonsumsi bukan termasuk kategori daging dari hewan-hewan yang diharamkan dan tidak ada najis yang masih melekat dalam daging tersebut, seperti darah misalnya.
Meski diperbolehkan, namun para ulama masih berbeda pendapat mengenai makruh tidaknya mengonsumsi daging secara mentah ini. Dalam kitab al-Iqna’ dijelaskan bahwa mengonsumsi daging mentah adalah hal yang dimakruhkan, seperti halnya hukum membiasakan makan daging secara terus-menerus dan memakan daging yang sudah busuk (bau). Namun, dalam kitab yang lain menyebutkan ketidakmakruhan mengonsumsi daging secara mentah, sehingga hukumnya hanya sebatas mubah.
Penjelasan di atas teringkas dalam kitab Ghidza’ al-Albab Syarh Mandzumah al-Adab berikut ini:
هَلْ يُكْرَهُ أَكْلُ اللَّحْمِ نِيئًا ، أَوْ لَا ؟ جَزَمَ فِي الْإِقْنَاعِ بِالْكَرَاهِيَةِ وَعِبَارَتُهُ : وَتُكْرَهُ مُدَاوَمَةُ أَكْلِ لَحْمٍ وَأَكْلُ لَحْمٍ مُنْتِنٍ وَنِيءٍ انْتَهَى . وَصَرَّحَ فِي الْمُنْتَهَى بِعَدَمِ الْكَرَاهَةِ فِي النِّيءِ ، وَالْمُنْتِنِ . قَالَ شَارِحُهُ نَصًّا وَلَمْ يَذْكُرْ خِلَافَ الْإِقْنَاعِ ، وَكَذَا الْغَايَةُ صَرَّحَ بِعَدَمِ الْكَرَاهَةِ وَلَمْ يُشِرْ لِلْخِلَافِ 
“Apakah dimakruhkan mengonsumsi daging mentah atau tidak? Syekh Abu Naja al-Hajawi dalam kitab al-Iqna’ menegaskan kemakruhan mengonsumsi daging mentah, berikut redaksinya: “Dimakruhkan terus-menerus mengonsumsi daging, makruh pula mengonsumsi daging yang busuk dan daging mentah”. Sedangkan Ibnu Najjar dalam kitab al-Muntaha menegaskan ketidak makruhan mengonsumsi daging mentah dan daging yang busuk. Bahkan ulama yang mensyarahi kitab tersebut menyebutkan kata ‘nasshan’ (secara jelas) tanpa menyebutkan perbedaan pandangan yang terdapat dalam kitab al-Iqna’. Begitu juga dalam kitab al-Ghayah menegaskan ketidakmakruhan mengonsumsi daging mentah, tanpa mengisyaratkan adanya perbedaan pendapat,” (Syekh Muhammad bin Ahmad bin Salim as-Safarini, Ghidza’ al-Albab Syarh Mandzumah al-Adab, juz 2, hal. 121).
Berbeda halnya ketika dengan mengonsumsi daging mentah akan menyebabkan bahaya pada diri sendiri, misalnya seseorang meyakini bahwa dengan mengonsumsi daging mentah maka kesehatannya akan terganggu atau penyakit yang dimilikinya akan kambuh. Maka dalam keadaan demikian memakan daging mentah adalah hal yang dilarang. Hal ini sesuai dengan kaidah “adl-dlarar yuzâlu” (bahaya harus dihilangkan) dan berdasarkan firman Allah:
وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التّهْلُكَةِ
“Dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri” (QS. Al-Baqarah: 195)
Selain itu juga harus dipastikan bahwa daging yang dimakan benar-benar halal dan disembelih oleh orang Muslim atau ahli kitab (pemeluk agama yahudi atau nasrani). Jika daging yang masih mentah ternyata berasal dari hewan yang disembelih oleh orang selain Muslim dan ahli kitab, maka mengonsumsi daging tersebut tidak diperbolehkan.
Sedangkan ketika seseorang tidak mengetahui pada orang yang menyembelih daging yang hendak ia makan, maka langkah yang harus dilakukan olehnya adalah mencari petunjuk tentang asal muasal daging yang akan ia makan.

Maka dengan demikian dapat disimpulkan bahwa mengonsumsi daging dalam keadaan masih mentah adalah hal yang diperbolehkan selama daging tersebut (1) bukan termasuk kategori daging hewan yang diharamkan, (2) tidak ada najis yang melekat pada daging itu, serta (3) diyakini tidak ada dampak membahayakan bagi orang yang mengonsumsinya. 

Sehingga sebaiknya bagi orang yang hendak mengonsumsi daging yang masih mentah agar benar-benar memastikan kehalalan daging yang akan dimakan dan memastikan tidak adanya najis yang masih melekat dalam daging tersebut. Ketika masih ragu tentang asal muasal daging mentah yang hendak ia makan, (apakah dari hewan yang halal atau haram, disembelih secara syar’i atau tidak) maka sebaiknya agar hal tersebut dihindari karena tergolong makanan yang syubhat. Wallahu a’lam

Bagaimana Islam Memandang Makan All You Can Eat?

ilustrasi makanan all you can eat

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli gharar. karena transaksi ini pemicu terbesar terjadinya permusuhan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli gharar.” (HR. Muslim 3881, Nasai 4535, dan yang lainnya).

Dan termasuk diantara jual beli gharar adalah transaksi yang ukuran objeknya tidak jelas. Karena itu, kejelasan ukuran objek dalam transaksi menjadi salah satu syarat sahnya jual beli.

Ad-Dasuqi dalam Hasyiyahnya – fiqh Maliki – mengatakan,

لا بد من كون الثمن والمثمن معلومين للبائع والمشتري وإلا فسد البيع

“Harga dan barang harus jelas, diketahui penjual dan pembeli. Jika tidak maka transaksinya batal.” (Hasyiyah ad-Dasuqi, 3/15).

Ibnu Abidin – ulama Hanafi – mengatakan,

وشرط لصحته معرفة قدر مبيع وثمن

“Syarat sahnya jual beli adalah diketahuinya ukuran barang dan harga barang.” (Hasyiyah Ibnu Abidin, 4/529).

Dalam kasus bayar 100 rb, atau 50 rb, boleh makan sepuasnya, ada bagian yang tidak jelas. Yaitu ukuran makanan yang dikonsumsi pembeli. Dia bisa makan banyak, bisa makan sedikit. Lauk yang dimakan bisa banyak, juga bisa sedikit. Sehingga semua orang memahami, ada ketidak-jelasan di sana.

Bagaimana hukumnya?

Ada 2 pendapat dalam masalah ini,

Pertama, transaksi ini dilarang karena ada unsur jahalah (ketidak-jelasan).

Ini merupakan pendapat Syaikh Muhammad Mukhtar as-Syinqithi dalam jawaban yang beliau sampaikan ketika kajian Syarh Umdatul Fiqh. Beliau ditanya,

“Apa hukum menjual makanan, dengan cara makan sampai kenyang sementara bayarnya tetap.”

Jawaban yang beliau sampaikan,

الغذاء حتى الاشباع بيعٌ مجهول ، لأن الذي يشبع ليس له ضابط في الناس محدد ، وهذا البيع الذي تدل عليه نصوص الكتاب والسُّنة أنه محرم ، لايجوز لأنه لايصح أن تشتري شيئاً إلا إذا كان معلوماً ، معلوم الصفة ، معلوم القدر

Makan sampai kenyang, termasuk jual beli majhul (tidak jelas). Karena istilah ‘kenyang’ pada manusia tidak memiliki batasan. Dan jual beli ini dilarang berdasarkan keterangan dari al-Quran dan sunah. Tidak boleh, karena tidak sah membeli sesuatu kecuali semuanya jelas, jelas kriterianya, dan jelas ukurannya.

Dan pendapat ini juga yang diisyaratkan oleh Syaikh Dr. Fauzan. Beliau mengatakan,

أنني سئلت عن ظاهرة في بعض المطاعم وهي أن أصحابها يقولون للزبائن: كل ما تشاء من هذه المأكولات المعروضة وادفع مبلغاً مقطوعاً محدداً، فقلت: هذا مجهول والمجهول لا يجوز بيعه حتى يحدد ويعرف

Saya ditanya tentang kasus di sebagian restoran, dimana pemiliknya mengatakan kepada pengunjung, “Silahkan makan apapun yang telah dihidangkan, dan bayar uang sekian. Saya sampaikan, ‘Ini transaksi majhul (tidak jelas) dan sesuatu yang tidak jelas, tidak boleh dijual sampai ditegaskan batasannya.”

Kedua, transaksi ini dibolehkan. Ini merupakan pendapat Imam Ibnu Utsaimin dan Dr. Muhammad Said al-Buthi.

Imam Ibnu Utsaimin ditanya tentag hukum warung yang menjual makanan,

‘Bayar 20 real dan makan sampai kenyang.’ Jawaban beliau,

الظاهر أن هذا يتسامح فيه ؛ لأن الوجبة معروفة ، وهذا مما تتسامح فيه العادة ، ولكن لو عرف الإنسان من نفسه أنه أكول فيجب أن يشترط على صاحب المطعم ؛ لأن الناس يختلفون

Yang dzahir semacam ini dibolehkan. Karena ukuran yang dihidangkan jelas, dan ini dibolehkan sesuai adat. Namun jika orang merasa bahwa dirinya banyak makan, dia harus menyatakannya ke pemilik warung. Karena manusia beda-beda. (as-Syarh al-Mumthi’, 4/322)

Memilih Pendapat yang Mendekati

Para ulama membolehkan melakukan transaksi gharar yang ringan. Berikut beberapa keterangan mereka,

[1] Keterangan Ibnu Rusyd – rahimahullah –,

الفقهاء متفقون على أن الغرر الكثير في المبيعات لا يجوز ، وأن القليل يجوز

Para ulama sepakat bahwa gharar yang banyak dalam transaksi, tidak dibolehkan. Sementara gharar yang sedikit, boleh.

[2] Keterangan al-Qarrafi

Beliau menyebutkan,

الغرر والجهالة – أي في البيع – ثلاثة أقسام : كثير ممتنع إجماعا، كالطير في الهواء، وقليل جائز إجماعا ، كأساس الدار وقطن الجبة، ومتوسط اختلف فيه، هل يلحق بالأول أم بالثاني؟

Gharar dan jahalah – dalam jual beli – ada 3 macam:

[1] Gharar banyak, hukumnya terlarang dengan sepakat ulama. Seperti: burung yang ada di udara.

[2] Gharar sedikit, hukumnya boleh dengan sepakat ulama. Seperti: pondasi rumah dan jenis kapas kain jubah

[3] Gharar pertengahan, hukumna diperselisihkan ulama. Apakah dimasukan yang pertama atau kedua.

(al-Furuq, 3/265)

[3] Keterangan dalam Ensiklopedi Fiqh

يشترط في الغرر حتى يكون مؤثراً أن يكون كثيرا , أما إذا كان الغرر يسيرا فإنه لا تأثير له على العقد

Diantara syarat gharar yang haram adalah berpengaruh dalam akad dan ukurannya besar. Namun jika ghararnya ringan, tidak ada pengaruh dalam akad. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 31/151)

Contoh bentuk gharar ringan, seperti yang disampaikan Ibnul Qoyim,

غرر يسير يُغتفر في جنب المصلحة العامة التي لا بد للناس منها، فإن ذلك غرر لا يكون موجباً للمنع، فإن إجارة الحيوان والدار والحانوت مساناة لا تخلُو عن غرر، لأنه يعرض فيه موتُ الحيوان، وانهدام الدار، وكذا دخولُ الحمام

Gharar yang sedikit ditoleransi dalam rangka mewujudkan kemaslahatan umum, yang harus ada dalam kehidupan manusia. gharar semacam ini tidak boleh menjadi sebab terlarangnya transaksi. karena menyewakan binatang atau rumah atau ruko yang terbuka, tidak bisa lepas dari gharar. Karena bisa saja binatang itu mati atau rumah itu roboh. Demikian pula masuk ke pemandian… (Zadul Ma’ad, 5/820)

Orang yang hendak masuk pemandian, dia membayar biaya masuk, lalu masuk. Dan dia tidak tahu berapa jumlah air yang akan dia gunakan, berapa sabun yang akan dia habiskan, berapa lama dia berdiam di dalam. Dan ini semua adalah gharar ringan yang ditoleransi.

Namuan melalui kebiasaannya manusia bisa memahami bahwa kira-kira yang akan dihabiskan oleh konsumen adalah antara sekian sampai sekian. Dan mereka bisa mentoleransi untuk selisih kuantitas di rentang itu.

Dalam kasus warung, bayar sekian, silahkan makan sepuasnya, pemilik warung maupun konsumen bisa memahami di rentang berapa kuantitas makanan yang akan dikonsumsi untuk sekali kunjungan. Misalnya, untuk nasi antara 1 – 3 ons/orang, lauk antara 2 – 5 ons/orang dst. dan mereka bisa mentoleransi untuk selisih kuantitas di rentang itu. Dan itulah gharar ringan yang dibolehkan.

Karena itulah, pendapat yang lebih mendekati adalah pendapat yang membolehkan. Hanya saja, bagi mereka yang kuantitas makannya tidak normal, melebihi dari umumnya masyarakat, maka dia harus sebutkan di awal, agar tidak merugikan salah satu pihak.

Termasuk dalam kajian ini, seperti yang terjadi di Lounge di Bandara. Penumpang masuk dengan membayar 100rb misalnya, dengan layanan diuruskan check in, bagasi dan makan sepuasanya. Ada ketidak-jelasan untuk ukuran makanan yang dikonsumsi penumpang. Meskipun ketidak-jelasan (gharar) dalam hal ini terhitung sedikit.

Manfaat Madu Hitam Untuk Kecantikan

Meskipun rasanya pahit, namun madu hitam memiliki banyak manfaat untuk kesehatan tubuh. Selain itu, madu hitam (pahit) bermanfaat bagi kecantikan, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Menghilangkan flek hitam pada kulit wajah

Madu Pahit bisa digunakan sebagai masker wajah untuk menghilangkan flek hitam pada kulit wajah, manfaat madu untuk wajah ini diantaranya untuk meminimalisir flek hitam pada kulit wajah, flek hitam sendiri biasanya muncul baik pada wanita maupun laki-laki namun lebih dominan terjadi pada wanita.

Flek hitam muncul seiringnya usia, semakin dewasa kolagen pada kulit wajah menumpuk dan menjadi flek, bisa juga diakibatkan stress, bisa juga diakibatkan makanan yang dikonsumsi.

2. Mengencangkan kulit wajah

Madu Pahit dimaskerkan untuk mengencangkan kulit wajah. Biasanya usia lebih lanjut akan menjadikan kulit pada wajah kendur dan terlihatlah kerutan-kerutan pada wajah yang membuat tampak lebih tua dalam berpenampilan.

Untuk mengatasi hal ini madu pahit bisa digunakan sebagai masker wajah, biasanya dimaskerkan atau diratakan di wajah tipis-tipis dan diamkan selama 15-30 menit hingga lapisan madu mengering, lalu bilaslah dengan air hangat.

Saran untuk membilas, apabila pemaskeran dilakukan pada malam hari, maka air yang digunakan untuk membilas baiknya air hangat sehingga pori-pori kulit terakhir berada dalam kondisi terbuka untuk bernapas.

Sedangkan apabila menggunakan madu pahit dimaskerkan di pagi atau siang hari baiknya menggunakan air dingin biasa atau air es, sehingga pori-pori kulit terakhir dalam kondisi mengerut atau tertutup, penggunaan secara rutin akan mengurangi kerutan-kerutan di kulit wajah sehingga tampak lebih fresh dan lebih muda.

4. Mengusir jerawat

Madu Pahit untuk mengusir jerawat, Jerawat terkadang menganggu kepada seseorang dalam penampilan, walau tidak semua orang merasa terganggu dengan jerawat, tapi idealnya wajah kita harus terbebas dari namanya jerawat.

Apabila mendapati wajah berjerawat maka segera oleskan sedikit madu pahit ke permukaan kulit yang berjerawat tersebut, dan diamkan selama 30 menit hingga madu terasa meresap dan mematikan bakteri dan kuman pada jerawat.

Dilakukan secara rutin maka kulit wajah akan bersih dari jerawat. Dianjurkan selain untuk di oleskan madu diminum untuk membantu pembersihan dari dalam.

5. Membakar kalori dan melunturkan lemak

Madu Pahit diminum secara rutin akan membakar kalori dan melunturkan lemak, biasanya pada seseorang yang memiliki berat bada diatas ideal, dibawah permukaan kulitnya mengandung kelebihan lemak, sehingga nampak berlipat-lipat atau garis-garis yang sebenarnya adalah kandungan lemak dibawah kulit yang berlebihan. Apabila madu pahit dikonsumsi secara rutin maka akan berangsur-angsur menguranginya.

6. Penambah suplemen dan membantu program diet

Madu pahit mampu menjadi bahan penambah suplemen dan membantu program diet, minum madu pahit akan terasa mengenyangkan, bagi orang yang menginginkan turun berat badan biasanya madu pahit dikonsumsi secara rutin diwaktu jam makan, sehingga perut tidak terasa lapar dan mengurangi selera makan.

Walaupun melewati tanpa makan, tapi tubuh akan tetap segar dan berstamina. Bagi orang-orang yang memiliki perut buncit ini sangatlah cocok mengkonsumsi madu pahit untuk membantu program dietnya.

Kandungan Gizi:

Kandungan gizi Madu Hitam

  • Vitamin A
  •  Vitamin B1
  • Vitamin B2
  • Vitamin B3
  • Vitamin B5
  • Vitamin B6
  • Vitamin C
  • KALSIUM
  • KALIUM
  • ZAT BESI
  • ALANINE

Aturan Pakai:

Untuk Menjaga Kesehatan:
1 sendok makan 3 x sehari

Untuk Pengobatan:
2 – 3 sendok makan 3x sehari

Anjuran:

Ajuran minum madu raja yang benar agar memperoleh hasil yang maksimal:

  • Madu hitam sebaiknya diminum secara langsung (tanpa campuran apapun)
  • Setelah minum madu hitam sebaiknya jangan minum air putih agar mudah diserap  oleh tubuh dan madu raja cepat bereaksi (jika haus sebaiknya minum air putih sebelum minum madu raja)
  • Madu hitam cocok diminum kapan saja, tapi dianjurkan diminum sebelum makan pagi, sebelum makan siang dan sebelum tidur
  • Minumlah madu hitam secara rutin untuk menjaga kesehatan agar tetap bugar dan fit
  • Tetaplah berusaha dan berdoa dan jangan berputus asa

Bacalah doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil mengusap dengan tangan kanannya pada tubuh yang sakit :

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ وَاشْفِه وأَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَآءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

“ Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah kesusahan dan berilah dia kesembuhan, Engkau Zat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit lain” (HR Bukhari 535 dan Muslim 2191).

atau doa:

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ, مذْهِبِ الْبَأْس, اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَآءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

“ Ya Allah, Rabb manusia Yang Menghilangkan kesusahan, berilah kesembuhan, Engkaulah Zat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada yang mampu menyembuhkan kecuali Engkau, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit lain” (HR Bukhari 541).

Bolehkah Orang Kidal Makan Dengan Tangan Kiri?

Di antara adab yang diajarkan Islam adalah ketika kita hendak makan atau minum. Manusia, khususnya seorang muslim diwajibkan makan dengan menggunakan tangan kanan. Islam juga melarang makan atau minum dengan tangan kiri.

Namun seperti kita sering lihat sekarang, orang muslim banyak yang mempunyai kebiasaan buruk dalam hal makan dan minum. Di antara mereka ada yang melakukannya dengan berdiri dan menggunakan tangan kiri.

Ketahuilah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam biasa menggunakan tangan kanan untuk sebagian besar urusannya yang baik-baik. Sebagaimana hadits ‘Aisyah radhiallahu’anha:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ فِي شَأْنِهِ كُلِّهِ

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam membiasakan diri mendahulukan yang kanan dalam memakai sandal, menyisir, bersuci dan dalam setiap urusannya,” (HR. Bukhari 168).

Lalu bagaimana jika orang yang kidal? Apakah ada pengecualian baginya sehingga diperbolehkan makan dengan tangan kiri?

Dikutip dari Konsultasi Syariah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat marah, ketika ada orang yang makan dengan menggunakan tangan kiri; sebagaimana disebutkan dalam hadis Salamah bin Akwa’, Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat orang yang makan dengan tangan kiri. Beliau langsung mengingatkan,

كل بيمينك

Makanlah dengan tangan kananmu.”

Orang itu menjawab, “Aku tidak bisa.”

Asal Usul Kuliner Khas Islam

Peradaban Islam sebenarnya juga dapat dimaknai sebagai produk pertanian. Masyarakat nomaden yang tidak selalu dianggap “beradab” –yang mencari makan dengan cara berburu, mengumpul, atau menggembala–umumnya masih dianggap sebagai primitif.

Transisi dari berburu dan mengumpul, mengambil tempat perdana di Timur Tengah, di mana kekayaan rumput alam menyediakan bahan baku untuk pengolahan berbagai tanaman. Mundur ke periode zaman es terakhir, sekitar 10.000 SM, mendorong strategi baru untuk mengumpulkan makanan, dan dari waktu ke waktu. Orientasi konsumsi manusia pun berubah. Dari spesies liar menjadi butiran yang lebih berguna, seperti: barley, oat, dan gandum.

Melalui proses tak sadar, mereka memilih tanaman yang menguntungkan dan mendorong untuk bercocok tanam. Sejak 8000 SM, sumber makanan menjadi lebih diandalkan oleh gerombolan nomaden yang menetap ke desa-desa pertanian di Yerikho dan Çatal Huyuk (Turki). Sumber daya alam yang menguntungkan dari sungai Nil di Mesir dan sungai Tigris serta Efrat di Mesopotamia, menghasilkan surplus pertanian, memfasilitasi pengembangan pemukiman masyarakat, di mana akses terhadap makanan membantu untuk mendefinisikan “hierarki”.

Diferensiasi sosial di negara-negara kuno ini (sekitar 2000 SM) juga menyebabkan subordinasi atas perempuan. Hal ihwal ini menjadi ironis, mengingat peran penting dari kaum perempuan dalam aktivitas bercocok tanam.

Sebelum mendakwahkan Islam sekitar 610 M, Nabi Muhammad SAW memimpin sebuah kafilah unta yang melintasi semenanjung Arab. Dengan demikian, dia telah menjembatani antara gaya hidup nomaden gurun dan desa-desa pertanian yang menetap di oasis dan pantai. Islam dengan jenius telah mengemas tradisi yang beragam menjadi peradaban baru. Tentara muslim di bawah khalifah kedua, Umar bin Khattab (memerintah pada 634-644) menyerang dan menaklukkan sebagian besar dari Kerajaan Sasanid dan Bizantium, sehingga mewarisi budaya Persia dan Yunani.

Dalam satu abad, kekuasaan Islam meluas dari Spanyol ke Afrika Utara dan Timur Tengah, hingga India. Agama ini menawarkan akses ke bahan-bahan dan metode memasak dari tiga benua dan membangun dasar untuk sajian masakan yang membentang di seluruh jagat.

Pemerintah kekhalifahan mendorong perdagangan terpadu dan migrasi yang luas, memperkenalkan tanaman pangan Asia ke khalayak Barat. Tradisi Islam menghormati profesi pedagang. Oleh karena itu, para pedagang Arab segera mendominasi rute pelayaran di Samudera Hindia. Kisah Seribu Satu Malam menggambarkan banyaknya produk yang dijual di Baghdad seperti: “apel Suriah dan quince Turki, persik Oman, mentimun dari sungai Nil-Mesir, dan lemon sitrus Sultani.”

Karena pajak yang rendah, tenaga kerja budak, dan kesempatan untuk memiliki tanah pertanian, telah memikat para pedagang asal Persia dan India untuk bermigrasi ke Barat. Mereka membawa teknik irigasi yang canggih dan tanaman tropis Asia, termasuk beras, gula, gandum, jeruk, pisang, mangga, bayam, terong, dan sebagainya.

Beberapa tanaman asal Afrika, seperti semangka dan sorgum, bahkan membuat arah perjalanan berbundar dari pesisir Swahili ke India sebagai tempat persinggahan, sebelum kembali ke Afrika dan Eropa.

Saat melakukan ibadah haji ke Makkah, peziarah muslim asal Andalusia, Ibnu Jubair, mengisahkan ihwal semangka yang terasa “seperti gula-gula atau madu murni”. Lebih nikmat dari melon pahit yang tumbuh secara liar di Afrika.

Susu yang merupakan produk olahan dari para gembala badui, sedikit berubah sejak zaman pra-Islam, kontras dengan daging panggang mewah, padi, serta kombinasi manis dan gurih masakan ala Persia.

Juru masak asal Moor (Spanyol) melancong ke Palestina guna menyajikan makanan laut Mediterania yang segar. Sementara yang lain di Timur Tengah, hanya memiliki akses terbatas kepada ikan kering. Couscous, pasta kukus kecil yang terbuat dari sorgum dan gandum keras, kemudian menyebar perlahan-lahan dari Maroko dan mungkin tiba di Suriah dan Irak sekitar abad ketiga belas. Sebaliknya, manisan dari tebu dan kue-kue yang berbahan tebu tersedia di seluruh dunia Islam.

Hukum berpuasa bagi umat muslim, memberlakukan beberapa kesinambungan atas masakan regional yang beragam ini. Daging babi dilarang untuk muslim, membuat daging kambing menjadi pilihan favorit. Para penjagal kambing, baik Arab dan Yahudi, melakukan ritual penyembelihan hewan kurban. Alquran juga melarang alkohol, yang akhirnya digantikan oleh kopi.

Umat muslim berpuasa selama bulan suci Ramadhan. Meskipun menjadi fenomena umum dalam masyarakat, sikap ramah dan beramal memiliki akar yang sangat jauh di padang pasir Arab yang keras, dan kewajiban bagi setiap individu untuk mengeluarkan zakat bagi masyarakat miskin, menduduki peringkat keempat dalam rukun Islam.

Meskipun ajaran Islam memerintahkan untuk berbagi kepada kaum papa, namun faktanya para pejabat pengadilan kekhalifahan Abbasiyah (750-1258 M) secara rutin mengadakan perjamuan makanan mewah yang menantang etika kesetaraan dalam masyarakat muslim.

Pada abad kesembilan, kitab al-Bukhala mencela orang-orang Arab yang makan “makanan Persia, makanan dari Chosores, daging gandum rasa madu dan mentega murni ….Umar bin Khattab tidak akan setuju.” Referensi bagi kekhalifahan kedua ini menegur pengadilan Bagdad kontemporer, karena mental mereka telah dirusak oleh makanan serba Persia itu.BACA JUGA

Matematika dan Fisika dalam Kanvas Peradaban Islam

Takdir–di mana pun dalam literatur Arab, juga bisa menghukum mereka yang terganggu oleh makanan yang berlebihan. Ziarawan Maroko, Ibnu Battuta, secara sentimentil mengisahkan kepribadian tokoh sufi Jalaluddin Rumi yang tergoda oleh manisan yang ditawarkan oleh seorang penjaja makanan,

“Sang syekh meninggalkan pelajarannya untuk mengikutinya dan menghilang selama beberapa tahun. Kemudian, dia datang kembali, tapi dengan pikiran teratur, berwicara tentang apa pun, kecuali perihal syair-syair Persia yang tak bisa dimengerti.”

Para koki non-muslim juga mencari inspirasi untuk jamuan makan kosmopolitan khas para khalifah. Umat Kristiani abad pertengahan, tidak memiliki akses yang begitu luas ke resep ini, disebabkan oleh pendudukan pasukan Islam atas Spanyol pada periode perang Salib.

Di Sisilia (Italia) yang juga daerah taklukan muslim, makaroni yang terbuat dari gandum keras, telah muncul pada abad ketiga belas, dan dua ratus tahun kemudian, budidaya padi menyebar ke utara, di mana juru masak masih membuat bubur seperti risotto. Para ahli telah menelusuri hubungan antara penggunaan canggih atas rempah-rempah dalam buku resep masakan asal Arab dan karya Eropa Abad Pertengahan–meskipun resep serupa di Apicius membuat kita ragu akan bukti pengaruh langsungnya.

Koki asal Afrika juga mengenal bahan baru dan memanfaatkan teknik memasak itu. Meski difusi tanaman cenderung lari ke arah Barat, dengan keuntungan lebih sedikit untuk Asia, namun, Kesultanan Delhi (1206-1526) telah meninggalkan jejak masakan yang mendalam di India Utara. Resep muslim ini juga muncul di Cina dari Dinasti Lagu (960-1279), namun pengaruh mereka dibayangi oleh revolusi kuliner asli yang dihasilkan dari peningkatan produksi beras Indo-Cina dan munculnya ekonomi pasar.

Pada abad kedua belas, saat jumlah penduduk Cina telah melampaui angka 100 juta jiwa, Restoran Hangzhou membuat beragam masakan, mirip seperti yang ada di pengadilan Bagdad.

Arkian, dengan identitas mereka yang berakar kuat dalam ketaatan kepada Allah SWT, umat muslim membutuhkan beberapa stereotipe tentang makanan barbar untuk membedakan dirinya dari non-muslim. Para pedagang dan peziarah asal Arab, bepergian secara luas dan menyatakan rasa ingin tahunya perihal adat dan makanan dari orang-orang yang mereka temui. Toleransi mereka terhadap “orang-orang dari kitab,” termasuk Kristen, Yahudi, dan kemudian Hindu dan Buddha, juga membantu membuat masakan paling universal dalam persilangan budaya global di dunia.